something ’bout us

Tangan kami hanya dua, dan semua yang kami genggam adalah luka. Dunia dimana kami hidup mungkin tidak lebih baik dari apa yang ingin kami hidupi. Itu sebabnya kami main judi dengan senyuman orang lain, mengharapkan penawar luka yang hampir abadi.

Iklan

self-reminder

Suatu saat aku pernah bertemu seseorang yang mengesankan di angkot Kalapa-Ledeng. Aku bilang ‘mengesankan’ karena ingatan tentang orang tersebut dan peristiwa pada saat itu masih kusadari keberadaannya dengan jelas. Malam itu, aku dan temanku duduk di angkot Kalapa-Ledeng hendak menuju suatu tempat. Wanita tua berpakaian kuno itu duduk tepat di depanku. Di pangkuannya ia dekap sebuah tas belanja berbahan kain yang sudah robek sana-sini. Sejak aku masuk dan duduk di angkot, wanita itu terus menatapku. Aku membalasnya dengan senyuman kaku. Tak lama, wanita tua itu bersuara “Kacamatanya kebesaran nggak?” melihat bahwa tatapannya masih tertuju padaku membuatku langsung merespon, “kacamata saya, Bu?” tanyaku sambil menunjuk kacamata yang kukenakan. Wanita itu langsung menepis, “punyaku ini, lho. Kebesaran nggak?” merasa malu, aku langsung tertawa kecil menatap temanku yang duduk di samping kiri, rupanya ia ikut menertawakan kebodohanku. “Nggak kok, Bu. Pas aja.” jawabku dengan sedikit sisa tawa yang kemudian bertransformasi menjadi senyuman. “Ini warnanya merah, kan?” tanyanya lagi, sambil menunjuk kacamatanya yang ia kenakan. Aku mengangguk mengiyakan. “Kalau dibandingkan yang ini, besaran yang mana?” kali ini ia memasukkan kacamata yang semula ia kenakan, lalu mengeluarkan kacamata lainnya dari tas yang sejak tadi dipangkunya. Aku berpikir sejenak, “Kayaknya besaran yang tadi deh, Bu.” Jawabku sembari menoleh pada temanku meminta persetujuan. “Iya, iya. Besaran yang awal.” Ujar temanku menambahkan. Wanita itupun mengenakan kacamata yang baru diambilnya itu.

Sejujurnya, meskipun mungkin aku terlihat dan terdengar responsif menjawab setiap pertanyaan wanita tua itu, sejak awal aku merasa waswas dan curiga. Siapa tahu, mungkin saja ini modus penipuan atau hipnotis yang terbaru. Maksudku, siapa sih yang bisa dengan santainya melakukan percakapan semacam itu di angkutan umum? Namun, kecurigaanku mereda ketika kemudian wanita tua itu berceloteh banyak hal yang terdengar sangat aneh dan sulit dimengerti. Bahkan beberapa penumpang lain yang duduk di sampingnya kudapati sedang tertawa ria menertawakannya diam-diam. Tiba-tiba saja aku merasa sedih dan justru berempati pada wanita tua itu. Lalu tiba-tiba di ponselku muncul chat dari teman yang duduk di samping kiriku itu. Ia bilang ingin segera turun. Aku menoleh padanya dan berbisik, “Aku juga.”

Dari sekian panjangnya celotehan wanita tua itu, ada satu hal yang tiba-tiba mendatangkan insight. Meskipun tidak yakin berbicara dengan siapa, wanita tua itu terus bercerita tentang masa mudanya ketika ia kuliah di salah satu universitas negeri ternama di Bandung, lalu kemudian tentang dirinya yang juga punya ponsel dan banyak orang yang suka menghubunginya (ia berkata demikian ketika melihat temanku sibuk dengan ponselnya), hingga rencana pernikahannya yang kemudian batal.

Setelah turun dari angkot, aku bilang pada temanku, “Belum bisa kebayang ih, kita ke depannya bakal banyak ketemu orang semacam ibu itu, loh.” Temanku hanya tersenyum dengan tatapan sedih, “iya ih, aku takut.” Aku tertawa kecil, “aku juga.”

Yang tadi memang atribusi sih. Aku tidak tahu pasti apakah wanita tua tadi memang memiliki masalah psikis atau tidak dan apakah penyebabnya adalah hal yang tadi diceritakannya atau bukan. Tapi, terlepas dari semua itu, ada satu hal yang membuatku tersadar. Selama ini, sejauh ini, kita mungkin selalu mendambakan hidup yang lebih baik seakan-akan yakin bahwa ada satu saat dimana kehidupan kita akan sempurna dari segi manapun. Misalnya, aku yang selama ini selalu berpikir dan yakin bahwa ada suatu saat dimana aku berhasil menjadi seorang psikolog, kegiatan menulisku berjalan lancar, hubunganku dengan keluarga berjalan baik, keuanganku tak mengkhawatirkan, dan puncaknya adalah ketika aku berhasil bertemu dengan seseorang yang menerima dan mencintaiku seutuhnya. Aku berpikir bahwa seseorang itu akan datang tepat ketika kehidupanku sempurna. Aku tidak tahu mengapa bisa seyakin itu, lalu kemudian cerita tentang wanita tua itu seakan-akan menghempaskan keyakinanku itu sejauh-jauhnya. Wanita tua itu, yang berhasil lulus dari universitas yang sejak dulu kuimpikan, gagal menyempurnakan kehidupan cintanya dan berakhir seperti itu.

Dengan berkata demikian, bukan berarti aku takut memiliki masalah psikis atau apapun semacam itu. Tidak ada yang hina dari hal itu. Maksudku adalah, kita, khususnya wanita (atau mungkin juga pria) mungkin memiliki keyakinan bahwa pasti ada saat dimana seseorang datang mencintai kita seutuhnya dan apa adanya. Sedangkan dunia ini besar, dan bukan kita yang mengaturnya. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi nantinya. Mungkin saja tema dari kehidupan kita bukanlah romansa. Kalau kita melihat sekitar, mungkin banyak orang-orang yang sudah berumur belum menemukan teman hidup yang mencintainya seutuhnya. Kita bisa saja menjadi salah satu dari mereka nantinya dan menurutku tidak ada yang salah dengan hal itu.

Yang terpenting, jangan melemparkan kewajiban untuk mencintai diri kita sendiri pada orang lain. Jangan menunggu seseorang untuk mencintai kita ketika kita bisa melakukannya sendiri 🙂

 

self-reminder

#LoveIsNotOver

/1/ Love is so painful

Apa yang sebenarnya bisa diharapkan dari sebuah hubungan? Kalau kau penasaran, jangan tanya Taehyung.

Dalam hal apapun, jawaban valid hanya akan bisa didapatkan jika bertanya pada ahlinya. Dan jelas sudah Taehyung bukan ahlinya. Oh ayolah, memangnya kau harus jadi pakar percintaan hanya untuk memulai suatu hubungan? Taehyung sudah memulainya dan mungkin akan segera mengakhirinya. Lihat, kan? Ia benar-benar payah.

Taehyung menjatuhkan kepalanya ke belakang, menatap langit-langit kamarnya yang kosong. Ia memainkan kursi beroda yang didudukinya dengan mengayunkan kedua kaki jenjangnya ke lantai yang dingin. Matanya kemudian ia pejamkan. Mulutnya terbuka dan membunyikan suara mirip knalpot sepeda motor. Singkatnya, ia kacau.

Lalu tiba-tiba ponselnya berbunyi. Seakan sedang menantikannya, ia bergegas bangkit dari posisi kacaunya itu untuk segera menilik pesan di ponselnya. Sayangnya, hanya untuk itu saja ia harus menerima kutukan kecil terlebih dahulu : ia jatuh tersungkur karena terantuk meja di hadapannya lalu tertimpa kursi beroda yang semula ia duduki. Entah bagaimana bisa itu terjadi. Satu jawaban pasti dalam benak Taehyung : ini mungkin satu lagi pembuktian bahwa dirinya memang manusia terpilih yang selalu menerima hal-hal mengejutkan. Meskipun ia tidak bisa memastikan itu berarti bagus atau tidak.

Ketika ia dilahirkan, seluruh anggota keluarganya terkejut karena seharusnya bayi yang lahir adalah perempuan; di ulang tahunnya yang keenam ia diculik dan pada saat itu juga ia baru tahu kalau ibunya ternyata mantan atlet taekwondo tingkat nasional; waktu berusia dua belas tahun, kakaknya yang berbeda tiga tahun darinya meninggal karena terlibat tawuran; setelah lulus SMP, ia yang memiliki otak biasa-biasa saja dengan ajaibnya menerima undangan masuk SMA favorit yang untuk terdaftar di ujian masuknya saja nilai rapormu harus lebih baik dari lima ratus siswa lainnya seantero Daegu; hal ajaib lainnya adalah, di sekolah itu dengan instannya ia jadi cowok ngetop (ia yakin sekali ini terjadi karena wajahnya yang tampan); lalu gadis bermanik teduh yang disukainya diam-diam tiba-tiba bilang suka duluan padanya (sejak inilah Taehyung berpikir dirinya manusia terpilih); dan sekarang… isi pesan dari gadis itu meyakinkannya bahwa ‘terpilih’ tidak serta merta berarti positif.

Kalau Quentin Jacobsen dalam Paper Towns bilang bahwa dalam hidup, kita akan menerima setidaknya satu keajaiban yang mungkin hanya akan terjadi di film-film, Taehyung pikir ia punya lebih dari satu. Dan lebih dari satu yang ia maksud adalah banyak. Orang-orang sering mengeluh di twitter bahwa betapa hidup membosankan dan film hanyalah imajinasi kosong belaka. Taehyung tersenyum miris. Bukankah jelas hal yang terjadi di hidupnya ini seharusnya hanya ada di film?

From : Baby ❤

Maaf, aku tidak datang. Tolong perhatikan pintu rumahmu, petugas pengantar paket mungkin akan segera datang. 

Tapi Ini nyata. Taehyung tidak tahu harus membalas apa. Yang bisa ia lakukan hanya menuruti permintaan gadis itu untuk bangkit dan mengawasi pintu. Melihat tumpukan kardus dalam kamarnya yang lengang, membuat Taehyung meloloskan napas berat. Hal buruk jelas-jelas akan terjadi. Jawaban atas segala pesan dan teleponnya yang diabaikan.

Mencoba untuk berpikir positif tidak akan membantu sama sekali. Lagipula, dalam situasi ini namanya bukan ‘berpikir positif’ lagi, melainkan ‘denying‘.

***

 /2/ Goodbyes are even more painful

Bel rumahnya berbunyi nyaring. Taehyung tidak sudi mempercepat langkahan kakinya meskipun ibunya terus berteriak untuk membuatnya bergegas. Ia ingin dunia melambat saat ini juga. Seperti di film-film.

Persetan dengan film. Taehyung bahkan tidak tahu lagi mana dari kedua opsi ini yang selayaknya film : 1) Hubungannya dengan gadis itu berakhir begitu saja, 2) Meskipun terbentang jarak, ia dan gadis itu sama-sama tidak ingin menyerah. Benar juga, orang-orang melakukan hal itu sekarang. Hubungan jarak jauh. Di abad emas ini jarak seharusnya bukan lagi persoalan. Lalu mengapa gadis itu bersikap seakan-akan hubungan mereka akan berakhir?

Atau mungkin Taehyung yang terlalu naif berpikir bahwa satu-satunya alasan mereka berakhir adalah karena Taehyung yang akan pindah rumah ke Seoul. Pada kenyataannya, ada banyak kemungkinan lain yang tidak berani ia biarkan untuk bersarang di benaknya. Misalnya, gadis itu yang tidak lagi menyukainya.

Ah, memikirkannya saja membuat hatinya sakit.

Bel rumah berbunyi lagi, tepat ketika Taehyung hendak menarik gagang pintu. Seorang pria berseragam menyerahkan sebuah kotak berukuran besar. Sorot matanya menyampaikan empati di hatinya. Taehyung menatap pria itu nanar. Merasa ingin berterima kasih namun ragu. Bukankah seharusnya cacian yang ia lontarkan dari mulutnya?

Usai petugas itu pergi, kaki Taehyung masih membatu. Kedua bola matanya masih menatap kotak besar yang berada di bawahnya itu. Tanpa perlu membukanya ia sudah tahu pasti isinya : semua pemberian Taehyung untuk gadis itu.

Rasanya seperti ketika luka memarmu membentur sesuatu. Sakit sekali. Taehyung ingin sekali memaki siapapun yang mencetuskan ide ini. Rasanya seperti perasaannya selama ini tidak dihargai. Rasanya seperti ditolak mentah-mentah meskipun pada kenyataannya ia pernah bersama gadis itu. Rasanya seperti seakan-akan gadis itu tidak mengerti perasaannya yang sesungguhnya, juga semua orang, siapapun yang mencetuskan ide bodoh ini. Ia tidak menukar barang-barang ini untuk waktu-waktu indahnya bersama gadis itu, ia tidak menukar barang-barang ini untuk senyuman malaikat yang gadis itu lontarkan setiap bertemu, ia tidak menukar barang-barang ini untuk pelukan hangat yang gadis itu berikan kemarin sore ketika mendengar berita ayahnya yang meninggal di Seoul.

Dengan kedua tangan mengangkat kotak besar itu, Taehyung melangkah kembali menuju kamarnya. Terdengar sayup-sayup suara televisi yang sedang ditonton ibunya. Ramalan cuaca di Seoul. Katanya, dalam seminggu ini akan sering turun hujan. Taehyung berharap langit Seoul akan berbaik hati padanya. Jika ia memberikan kematian pada ayahnya, Taehyung berharap kehidupanlah yang akan diberikan padanya.

 

END.

 

Selamat Hari Ayah!

 

 

Dalam bergulirnya waktu aku terpaku kaku tanpa mengingat-Mu

keresahan-keresahan orang lain

menenggelamkanku

 

aku tak kuasa menjadi Aku karena kupikir ini kuasa-Mu

kemudian pikirku rindu ini

juga maksud-Mu

 

Biarkan gemelut kusut pikiran orang lain

melahapku

juga cuap-cuap para pembicara yang

menghisapku

 

aku hanya ingin Aku

menemukan-Mu

 

(sekitar awal Oktober)

something stuck in my head these days

tumblr_ousebwu6dD1vam71lo2_540

Namjoon

30 June Year 22

 

Aku terheran ketika melihat tanganku menekan tombol open, seolah-olah ia punya pikirannya sendiri. Saat-saat seperti ini. Saat dimana aku melakukan sesuatu untuk pertama kalinya namun rasanya seperti sudah terulang berkali-kali. Sebelum sempat tertutup, pintu lift terbuka lagi dan orang-orang berdesak masuk. Di antara orang-orang tersebut, aku melihat seorang gadis dengan karet rambut berwarna kuning. Aku tidak menekan tombol open karena melihatnya, namun rasanya seperti aku yakin dia ada di sana. Aku mundur selangkah. Punggungku menyentuh dinding lift dan kedua mataku menemukan karet rambut berwarna kuning itu.

Punggung orang menyiratkan banyak cerita. Aku hanya tahu beberapa. Beberapa hanya bisa ditebak samar-samar sementara beberapa lainnya sulit diketahui. Tiba-tiba, aku bisa membaca punggungnya dan untuk pertama kalinya aku berpikir, “Bukankah seharusnya aku mengenal orang ini dan cerita tentangnya?”. Jika begitu, bukankah seharusnya ada orang yang bisa membaca punggungku? Aku mengangkat kepalaku dan tertampar dengan siluet diriku sendiri di depan cermin. Sudah lama aku menghindari ini. Hal semacam ini sering sekali terjadi, dan ketika aku mengangkat kepalaku kembali, lagi-lagi hanya ada wajahku di cermin. Aku tidak melihat punggungku.

 

Ps. Aslinya kuambil dari HYYH The Notes Versi E. Translated by me. Akhir-akhir ini masih terkesima sama notes-nya Namjoon itu :’) Idenya fresh banget dan… aku gatau deskripsiinnya gimana pokoknya keren bikin merinding :’) Jatuh cinta sama BTS untuk kesekian kalinya. Kangen teori-teorinya BTS btw (walaupun teori HYYH ini juga belum menemukan titik terangnya).

“Tuhan memberi kita cobaan tepat pada kelemahan kita, Tuhan tahu itu dengan sangat persis dan pasti. Dan kelemahan setiap orang itu berbeda. Oleh karena itu, kita tidak boleh mencela orang lain atas apapun cobaannya.”– Bu Ifa.

 

P.s. Edisi kangen masuk kelas Bu Ifa 😦

Setahun yang lalu

Aku merasa hampa.

Di antara banyak hal yang seharusnya (cukup) membuatku bahagia.

Aku… sedih.

Entah apa teori pastinya.

Aku hanya kesepian. Bahkan wajah Kim Jongin tidak cukup membuatku terhibur. Aku memandanginya, dan berpikir apakah akan ada orang yang mencintaiku seutuhnya.

Benar-benar hampa. Seperti segala sesuatu menekanku begitu keras. Aku rindu rumah, dan berpikir bahwa tidak akan ada saat lagi di mana aku bisa berdiam di sana selamanya.

Aku telah menjadi seorang dewasa,

dan aku takut.

 

 

Malam-malam terakhir bulan September

2016

Luka

Aku sering berpikir bahwa pikiran manusia adalah tempat terkompleks sejagat raya ini. Tempat utang-utang yang belum dilunasi bersarang, tumpukan tugas-tugas harian bersemayam, Tuhan dan keberadaan dipertanyakan, dan keresahan-keresahan tentangmu yang tak kunjung menjelma kebahagiaan.

Mungkin, hal yang lebih tidak menyenangkan dari rasa sakit adalah rasa bosan.

Itu sebabnya aku ingin menyelam dalam ceruk pikiranmu dan merasakan segala duka dan resahmu di sana. Bukan karena keping permasalahanku telah selesai sempurna. Melainkan tawa bahagiamu yang mengundangku.

Aku bosan dengan lukaku dan mulai berpikir untuk merasakan perihnya lukamu.

 

Bandung, 25 September 2017.

Segelas Kebahagiaan

Di sepanjang jalanan Gerlong, ada sebuah kios kecil berwarna merah. Letak spesifiknya, di depan MQ Guest House. Kios itu jual minuman. Namanya lucu : Pengubah Cokelat. Mungkin karena nama aslinya berbahasa inggris, orang-orang tidak peduli lagi si cokelat itu diubah jadi apa. Yang penting rasanya enak dan menyegarkan.

Aku suka cokelat tapi tidak terlalu suka manis. Dan si Pengubah Cokelat ini benar-benar tipikal cokelat kesukaanku. Rasanya tidak manis tapi agak pahit. Sejak pertama kali beli, aku sudah sebut dia ‘Kebahagiaan’. Memang norak dan aku juga tidak tahu kenapa aku menyebutnya seperti itu. Aku hanya suka dia dan candaan itu lumayan lucu bagi teman-temanku.

Tapi, sore ini aku baru paham.

Hari ini aku pulang sore sekali. Setelah presentasi di kelas Psikologi Pendidikan dan mendengarkan ceramah dosen di Psikologi Kepribadian II, aku juga harus berdiskusi lama dengan teman sekelompokku untuk tugas mata kuliah lain. Setelah pukul lima, diskusi selesai dan aku melangkah pulang. Perutku mulai berteriak minta diisi. Hari ini aku memang tidak makan siang, malas. Lalu tiba-tiba aku ingat aku belum beli kertas kado untuk membungkus hadiah Ummi. Akhirnya kuputuskan untuk mampir dulu ke toko alat tulis. Dan kebetulan toko alat tulis itu dekat dengan si Pengubah Cokelat. Aku tersenyum simpul. Masa bodoh dengan uang, aku ingin bahagia sore ini. Aku memang selalu begini sejak pegang uang banyak sendiri. Padahal aku tidak kekurangan tapi rasanya masalah uang selalu menjadi beban pikiran semua orang. Aku benci memikirkan uang tapi pikiran itu datang sendiri. Akhirnya aku mampir ke kios merah itu dan beli kebahagiaanku. Hehehe.

Sore ini topping bubble-nya habis. Akhirnya aku pilih milk pudding. Itu juga enak kok. Setelah segelas Kebahagiaan itu sudah kugenggam, aku tersenyum semakin lebar. Akupun langsung menghampiri toko alat tulis di sebelahnya, beli kertas kado, dan segera melangkah untuk pulang ke kosan. Lalu sambil berjalan aku kepikiran. Kenapa ya aku sebut dia yang sedang kugenggam ini sebagai ‘Kebahagiaan’? Lalu tanpa menganalisis lebih jauh aku langsung temukan jawabannya.

 

Aku ingin bahagia bisa sesederhana ini.

Kalaupun suatu saat aku tidak bisa beli dia, aku ingin melihat senyummu saja aku bisa bahagia.

Hehe.

Rebirth

Aku selembar kertas kosong, namun warnanya tidak putih.

kemarin-kemarin, seseorang menulis dengan tinta hitam.

kemarinya lagi merah,

kemarinnya lagi jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu….

 

Sekarang semuanya luntur

 

Kertasku jadi kosong, hitam warnanya.

sekarang aku ingin menulis di atasnya

kali ini dengan tanganku sendiri

Tapi, aku bingung tinta warna apa yang akan kupakai