two eyes

please just tell me,

what did you get the moment

you were looking at my

two eyes?

 

because i have no idea about

what did i get in myself the moment

i was looking at your

two eyes

 

please just tell me,

what was that?

 

what did you get in

my eyes?

Iklan

sesuatu yang kutulis sekitar dua tahun lalu

Senja itu, aku hanya sedang melamun menatap sebuah buku kecil yang sejak tadi tergeletak di hadapanku. Aku memiliki satu komitmen untuk merealisasikan passion menulisku : menulis buku harian setiap hari. Tapi, rasanya hari itu aku tidak merasa memiliki sesuatu untuk ditulis. Bukan. Bukan karena aku tidak memiliki satu hal pun yang memenuhi isi kepalaku sepanjang hari. Hanya saja, hal yang kupikirkan itu rasanya begitu intens sehingga membuatku tidak percaya pada buku kecil malang di hadapanku itu. Semua kemungkinan bisa terjadi dan yang terburuk adalah : seseorang mungkin akan membacanya dan semua orang akan melihatku buruk.

Aku paling tidak suka jika dipandang buruk dan kupikir mungkin semua orang juga berpikiran sama sepertiku. Tapi, komitmen adalah sejenis kesetiaan. Kau tidak bisa melanggarnya begitu saja. Jadi, aku tidak langsung beranjak dari tempatku duduk saat itu. Aku masih terus berpikir tentang hal apa yang akan kutulis dan pikiranku berujung pada suatu kesimpulan : aku akan membuat semacam perjanjian untuk diriku sendiri.

Hampir saja aku memulai untuk menulis hal itu ketika tiba-tiba aku berpikir bahwa hal itu terlalu naif. Aku memang tidak jadi menulis perjanjian itu, tapi, aku menulis sesuatu yang mirip perjanjian. Kurang lebih inilah yang kutulis :

Untuk  : Aku lima tahun mendatang

Dimanapun Aku berada

 

Hai, Aku.

Aku tidak akan menanyakan kabarmu karena aku selalu berharap kau akan baik-baik saja. Kabarku? Aku tidak ingin mengatakannya, tapi, aku juga tidak ingin berbohong padamu. Aku tidak baik-baik saja. Aku tidak perlu bantuanmu agar aku merasa baik, jadi, jangan mencoba menghiburku. Kau tahu, aku memang selalu jatuh sendiri dan pastinya, karena aku jatuh sendirian maka aku akan bangkit tanpa bantuan orang lain. Perlu kau tahu, aku ini kuat. Itu sebabnya kau sempurna di sana. Karena kau baik-baik saja, aku yakin perasaan ‘tidak baik-baik saja’ ini tidak akan bertahan lama.

Segala hal berjalan lambat sekarang. Padahal, aku ingin segera berjumpa denganmu. Apa kau tahu mengapa semua ini melamban? Karena aku menderita di sini. Semua orang terlihat membenciku, aku bisa merasakannya.

Masa-masa yang kulalui saat ini, jangan sampai kau merasakannya. Aku cukup berhasil untuk percaya pada diriku sendiri sehingga kau bahagia di sana. Kau tidak perlu menderita sepertiku.

Jangan lagi menangis. Aku sudah terlalu sering tenggelam dalam air mata. Kau akan lelah jika melakukannya. Jadi, jangan lagi menangis.

Kau tahu, mengapa aku menulis surat ini untukmu? Karena aku tidak tahu harus bercerita pada siapa. Saat ini semua orang terlihat meragukan. Dan sesungguhnya ini memang menyiksa. Aku selalu ingin mempercayai orang lain, tapi, setiap orang yang kupercayai semuanya pergi. Dan akhirnya hanya ada diriku seorang. Dan dirimu, tentunya.

Teruslah bermimpi, dan jangan pernah ragu untuk banyak melakukannya. Kau ada karena mimpi-mimpiku, ingat itu.

Satu hal penting lagi untukmu, berbuat baiklah dan hadapi dunia ini dengan berani. Be kind and have courage. Tanamkan kalimat itu dalam-dalam. Jangan mengulang kesalahan-kesalahanku, kumohon. Seburuk apapun orang lain menilaimu, jika memang kau merasa itu tidak benar, kau akan baik-baik saja. Kau akan baik-baik saja. Kau akan baik-baik saja. Kau akan baik-baik sa

Bolpoin di tangan kananku menggantung di udara. Aku mengusap air mata yang jatuh dengan tangan kiri. Saat itu, aku tahu, membendung air mata memang hal yang tersulit. Jika tangisanku sudah kuhitung sejak pertama kali aku menangis, berapapun jumlahnya, aku merasa tangisan hari itu adalah yang paling melegakan sekaligus menyesakkan. Aku lega karena apa yang selama ini bersarang jauh di dalam hatiku telah terungkap ke orang yang tepat, namun, aku merasa sesak karena aku tahu aku harus berjuang lebih keras lagi untuk mendapatkan ketenangan dan kesempurnaanku lima tahun mendatang.

hari ulang tahunmu

Di hari ulang tahunmu, kuberi kau hadiah sebuah lagu.

“Mengapa lagu yang kau berikan padaku? Lagu ini bahkan bukan milikmu.”

Kuulas senyuman tipis mendengarmu berkomentar. Kau terus mencari kedua mataku untuk menemukan jawabannya, namun aku tersipu mengarahkan pandanganku ke sembarang sekitar.

Aku ingin kau mendengarkannya setiap hari. Lagipula, hari ulang tahunmu hanyalah alasanku. Sejujurnya, aku ingin memberimu hadiah setiap hari. Aku ingin memberimu lagu itu setiap hari. Lagi dan lagi. Lagu itu.

 

My feelings for you

Aku tidak bisa dan tidak ingin mengartikanmu dengan kata-kata. Resah memang tak berujung, tapi getar hatimulah yang kuharap tak dusta.

Jangan juga katakan apapun padaku.  Jika kau rindu, datangi aku. Jika goncangan hatimu tak tertahankan, peluk aku. Jika senyumanku tak mampu lagi kau tampung, maka bungkamlah ia.

Aku juga tidak ingin tiga kata itu keluar dari sepasang bibirmu. Aku ingin kita seri. Aku ingin kau paham, aku melakukannya dengan sulit. Aku ingin kita tidak pernah mudah. Aku ingin kita selalu muda

.

 

1 am’s insight

You Did Well, Jonghyun.

Tanpa perlu kujelaskan apa yang terjadi pada Jonghyun SHINee, kebanyakan orang mungkin sudah tahu. Jadi, disini aku bukan mau menjelaskan kronologis kejadiannya karena di portal-portal berita baik yang khusus tentang per-kpop-an maupun yang umum sudah banyak dijelaskan. Di sini aku hanya ingin bilang kalau Jonghyun really did well. Kalau menggunakan capslock itu etis pada tulisan yang sifatnya seperti ini, rasanya aku mau ketik kata ‘well’ itu pakai capslock.

Meskipun nggak pernah ngebiasin Jonghyun, sejak dulu aku selalu respect sama dia, se-respect aku sama GDragon. Seringkali aku sebut Jonghyun itu sebagai GDragonnya SM. Why? Karena aku merasa Jonghyun itu sama talented-nya sama GDragon, mereka sama-sama produktif menciptakan lagu bukan hanya untuk diri mereka dan grupnya, tapi untuk penyanyi lain juga (kalian bisa cek di wikipedia thread lagu-lagu ciptaannya Jonghyun). Perbedaannya hanya terletak di genre musik mereka aja.

Ketika seorang idol seproduktif itu menciptakan lagu, aku pikir mereka bukan sekadar idol biasa, tapi sudah berubah menjadi artist; orang yang menciptakan seni, yang dalam konteks ini adalah lagu-lagu yang mereka ciptakan. Dan seorang artist mungkin tidak hanya menganggap kegiatan mereka menciptakan lagu dan menyanyikannya sebagai pekerjaan saja, tapi the way of living. Mereka bermusik untuk hidup.

Kalau kalian tahu dunia per-kpop-an, SHINee itu termasuk grup yang sudah senior. Dan setiap grup pasti punya masa jayanya. SHINee booming di tahun 2010-2012-an. Setelah lewat masa jayanya, dapat dipastikan grup tersebut akan tersaingi oleh grup-grup lainnya yang baru debut. Seorang idol yang menganggap kegiatannya hanya sebagai pekerjaan mungkin tidak akan terlalu mempermasalahkan hal itu. Toh mungkin ‘hasil’ kejayaannya masih dapat mereka rasakan. Berbeda dengan artist yang menganggap musik adalah segalanya bagi mereka. Pride, happiness, atau mungkin simply their breath ada pada musik mereka. Aku merasa Jonghyun salah satunya. Memang nggak ada yang tahu sih jelasnya penyebab dia memilih bunuh diri itu apa, tapi menurutku hal ini bisa menjadi salah satu kemungkinannya. Di 2016 lalu, Jonghyun mengeluarkan album solo dan menurutku itu nggak terlalu se-‘wow’ album solo milik GDragon dalam hal pemasarannya. Lewat teman dekatnya Jonghyun pernah bilang kalau selama ini yang terjadi nggak sesuai ekspektasinya. Katanya, semakin tua ia merasa semakin tersaingi. Aku sedih sewaktu baca berita tentang hal itu. Pasalnya, nggak ada yang bisa disalahkan. It’s how this world works.

Oleh karena itu, please don’t look at him as a coward or somewhat. He was very brave for doing that. You really really did well, Jonghyun.

 

 

 

p.s : I cried when i saw BTS members visited his funeral. What if their ‘Love Myself’ campaign broadcasted earlier….

[Movie Review] mother! (2017) : Wow

 

Here’s coming satu-satunya film yang kutunggu-tunggu di 2017 dan sialnya malah nggak tayang di bioskop 🙂 Padahal aku sempet liat posternya nangkring di coming soon XXI, meskipun memang kenyataannya nggak tayang-tayang setelah berminggu-minggu. Sampai akhirnya temenku bilang kalau ternyata posternya sudah dilepas lagi. Apa coba maksudnya :’)

Tapi, akhirnya aku bisa nonton film ini meskipun nggak di bioskop dan meskipun harus nunggu HD-nya tersedia selama berminggu-minggu pula.

Alasan kenapa aku kepengen banget nonton film ini adalah karena produser, penulis naskah dan sutradaranya adalah Darren Aronofsky. Dari beberapa filmnya Darren, sebelumnya aku baru nonton Black Swan (2010) dan Requiem For A Dream (2000) dan keduanya bener-bener bikin aku amaze. Darren memang terkenal karena film-filmnya yang sering menimbulkan kontroversi dengan memvisualisasikan hal-hal yang mungkin akan membuat orang merasa terganggu ketika menontonnya. Makanya kebanyakan film-film dia itu genrenya psychological thriller, which is dark banget. Tapi menurutku di situlah kerennya. Pokoknya kalau nonton filmnya Darren kalian akan merasakan sensasi menonton film yang mungkin nggak kalian dapatkan di film lainnya. Eh, malah promosi. Hehe.

Mengenai Mother! (2017) ini, sebetulnya aku juga masih nggak bisa berkata-kata. Aku baru kemarin banget nontonnya dan ini bukan jenis film yang esensinya bisa langsung dapet ketika nonton. Soalnya, teori-teorinya aja udah banyak berseliweran di fanpage-nya di facebook. Katanya sih film ini semacam alegori. Alegori dari apa? Ada yang bilang tentang ketuhanan gitu, ada yang bilang tentang interaksi antara kreatifitas pria dan wanita, ada yang bilang sindiran politik, sampai ada juga yang bilang kalau film ini adalah gambaran seseorang yang punya narcisstic personality. Ketika diwawancara, Darren sendiri nggak mau terang-terangan bilang esensi dari film ini apa, soalnya, menurut dia setiap orang pasti punya pemahamannya sendiri. Kalau Jennifer Lawrence, pemeran utama film ini, sih bilang kalau film ini isinya tentang interaksi kreatifitas pria dan wanita. Mungkin kalian bertanya-tanya, sebegitu banyaknya interpretasi, memangnya ceritanya tentang apa sih?

Jadi, film ini mengisahkan sepasang suami-istri yang tinggal di sebuah rumah besar yang dulunya pernah kebakaran. Si suami (Javier Bardem) adalah seorang penulis yang ceritanya sedang terkena writer’s block, sehingga dia kesulitan melanjutkan tulisannya. Lalu suatu hari, rumah mereka yang berada jauh dari pemukiman lainnya itu, kedatangan seorang tamu. Si tamu ini adalah seorang pria tua (Ed Harris) yang mengaku sebagai fansnya si suami. Si suami pun tentunya menyambut dengan suka hati sampai mengizinkannya tinggal di rumah besar itu. Bahkan, sampai istrinya si tamu (Michelle Pfeiffer) ini juga diperbolehkan tinggal. Berbeda dengan si suami yang antusias, si istri (Jennifer Lawrence) justru merasa sangat terganggu dengan kedatangan sepasang suami-istri yang asing itu. Sejak kedatangan mereka, si istri selalu merasa terganggu dan masalah-masalah pun bermunculan.

Untuk saat ini, aku cuma bisa terkagum-kagum aja sih sama plot ceritanya yang nggak biasa, totally nggak ketebak, dan surealis banget. Di antara dua film Darren yang pernah kutonton, menurutku ini sih yang paling top plot ceritanya, yang kalau beres nonton rasanya pengen kasih tepuk tangan sekeras-kerasnya. Film ini gila banget! Kalau beres nonton Black Swan (2010) cuma tepuk tangan sambil duduk, rasanya beres nonton ini sih standing applause deh. Apalagi, kabarnya Darren bikin plot cerita ini hanya dalam lima hari setelah dapat insight lewat mimpi. Gila memang.

Yang kusuka dari film ini, as always, film-filmnya Darren selalu berhasil menggambarkan kondisi psikologis si tokoh utamanya, yang ajaibnya bisa aku rasain juga ketika nontonnya, soalnya nge-shootnya itu dari sudut pandang si tokoh utamanya (aku nggak tau ini istilah dalam perfilmannya apa wkwk), yaitu si istri. Kedua, plot ceritanya yang, memang sudah aku sebut berkali-kali sebelumnya, memang gila banget. It was literally GILA. Aku nggak mau reveal di sini ah, intinya tonton aja, soalnya poin yang aku suka dari film ini salah satunya juga karena dari adegan ke adegannya nggak bisa ketebak. Itu bagian menyenangkannya, trust me. Dan, satu lagi. I LIKE ANYTHING PARADOXAL. Ending film ini bagi aku sih memuaskan banget, bukan jenis ending yang sad ataupun happy tapi bener-bener yang bikin amaze.

Setelah lama berpikir, aku nggak menemukan hal yang nggak aku sukai di film ini selain fakta bahwa film ini nggak nyampe ke bioskop di Indonesia, hehe. Mungkin aku terkena bias, soalnya aku memang suka film-filmnya Darren. Maka dari itu, coba deh tonton, terus kalian bisa komentar apa yang kalian nggak suka dari film ini atau mungkin interpretasi kalian tentang film ini 🙂

 

update:

Dari beberapa video wawancara yang aku tonton, ternyata di sana Darren memberi gambaran lebih lanjut mengenai kerangka film mother! (2017) ini. Ternyata, ada alasannya kenapa judul film ini nggak pake huruf kapital. Ohiya, kalau kalian lihat list cast film ini di wikipedia atau manapun, semua cast itu ditulisnya nggak pake kapital. Hanya Si Suami si tokoh utama aja yang pake kapital (ditulis Him). Jadi, menurut Darren Aronofsky, film ini adalah alegori dari bible. Si Suami adalah simbol dari Tuhan, istrinya melambangkan Mother earth, dan sepasang suami istri yang tiba-tiba muncul di rumah mereka itu adalah simbol dari Adam dan Hawa. Setelah kupikir lagi, jadi make sense sih plot ceritanya. Terlihat kalau sepasang suami-istri tak diundang ini terpukau banget ngelihat permata yang disimpan Si Suami di ruang kerjanya. Bahkan sampai akhirnya permata itu diambil oleh mereka dari tempatnya dan pecah, terus mereka diusir dari rumah. Got it?

Jadi, kalau kalian berniat untuk nonton, itu bisa jadi hint kalian. Selebihnya Darren nggak ngejelasin lebih lanjut sih. But still, walaupun kerangka umumnya udah jelas, film ini masih punya kejutan-kejutan di dalamnya. Hahaha (save me aku suka banget film ini sampe terus-terusan bilang banyak kejutan biar banyak yang nonton :’)).

Ternyata lagi, sebelumnya Darren juga pernah bikin film yang sumbernya dari bible, yaitu Noah (2014) yang berkisah tentang kisah Noah (dalam islam lebih dikenal sebagai Nabi Nuh). Dan ternyata lagi, nggak semua filmnya Darren dark kok. Salah satunya Noah (2014) itu tadi dan The Fountain (2006). Aku udah nonton keduanya. It’s okay lah untuk Noah (2014) soalnya bagiku familiar juga ceritanya. Nah The Fountain (2006) ini nih yang aku nggak sanggup lagi mikirin ini film sebenarnya tentang apa :’) otakku nggak nyampe atau memang aku belum bisa relate aja kali ya :’) tapi overall romance-nya keren.

 

[Movie Review] Blue Is The Warmest Color (2013) : Things You Have To Know About Them

 

Ketika punya keinginan untuk menulis review film, sebenarnya nggak banyak sih hal yang aku pertimbangkan. It’s simply because i want to share what i’ve got after watching it. Setelah sekian lama, baru kali ini aku posting review film lagi. Bukan karena selama ini aku nggak nonton film. Selama ini aku nonton film, lumayan banyak malah. Aku males sih sebenernya, hehe. Soalnya kalau nulis review suatu film, sisi perfeksionisku kayak memaksaku untuk menuliskannya se-perfect dan se-professional mungkin. Padahal, the point is, aku cuma mau sharing aja sih apa yang aku dapatkan dari film tersebut. Jadi sekarang, supaya nggak males-malesan nulis review lagi, kuputuskan untuk nulis hal-hal yang bersangkutan sama tujuanku aja, hehe. Sutradaranya siapa, produsernya siapa, dan hal-hal semacam itu sudah tersedia lengkap di wikipedia, saudara-saudara. Aku nggak mau ambil peran wikipedia, hehe.

Jadi, mari kita mulai saja. Di suatu pagi yang gabut (sebenernya lebih ke “anggap aja gabut lah, kesampingkan dulu revisi proposal observasi. Hari Minggu masa mikirin proposal.”) aku iseng berseluncur di internet dengan keyword “Movie recommendations by BTS”. Lalu muncullah suatu thread yang menampilkan film-film yang direkomendasikan sama anak-anak BTS. Dari sekian banyaknya film, kuputuskan untuk nonton dua film : Blue is The Warmest Color dan I Give My First Love To You.

Blue is The Warmest Color. Judulnya menurutku menarik banget. Sejak kapan coba biru jadi warna yang paling hangat? Biasanya kan biru selalu diasosiasikan sama hal-hal yang dingin. Laut, misalnya. Ketika film dimulai, aku intip-intip tuh durasinya berapa menit, ternyata durasinya sangat panjang, saudara-saudara. Durasinya sekitar 180 menit which is tiga jam. Tapi menurutku itu bagus sih, soalnya di film ini secara perlahan kita akan diajak untuk memahami kecamuk pikiran dan emosi si tokoh utamanya yang bernama Adele, seorang murid SMA yang memiliki masalah dalam mengenali orientasi seksualnya. Ohya, perlu diketahui film ini mengandung banyak sekali adegan seksual yang eksplisit antara cewek dengan cewek atau yang biasa disebut lesbian. Jadi aku kasih tanda warning yang besar buat kalian yang nggak nyaman atau mungkin terganggu kalau lihat hal-hal semacam itu. Atau buat kalian yang bingung atau ragu-ragu, you better think twice sebelum nonton film ini. Pertimbangin apakah mental kalian siap, soalnya kalau enggak pasti kalian juga yang rugi. Ok?

Ketika pertama kali tahu kalau ternyata film ini bertemakan LGBT, aku langsung teringat sama film The Danish Girl (2015) (Eddie yang main loh!). Bedanya, The Danish Girl kan tentang transgender, nah Blue is The Warmest Color ini tentang lesbian.

Sebelumnya aku nggak pernah tahu kalau orang yang lesbian punya struggle yang seberat itu. Aku cuma tahu kalau mereka struggling banget di lingkungan sosial, tapi nggak pernah tahu kalau dalam diri mereka sendiri sebenarnya mereka juga struggle. Dan, trust me, struggling sama diri sendiri itu berat banget. Nggak semudah itu tahu kalau diri kita ini orientasi seksualnya apa. Maksudnya, orang yang lesbian atau gay nggak semudah itu tahu kalau mereka itu straight atau lesbian/gay. Di film ini, Adele pernah pacaran sama kakak kelasnya yang cowok (bahkan sampai melakukan seks sama dia) dan ujung-ujungnya dia merasa terganggu sama hal itu. Film ini nggak ada narasinya jadi nggak dipaparin langsung apa yang Adele rasain, tapi dari tingkah laku dan ekspresi wajahnya, terlihat seakan-akan dia terganggu dan merasa bahwa itu salah. Akhirnya dia putusin lah si kakak kelasnya itu. Lalu suatu saat dia ketemu sama seorang cewek tomboy berambut biru di sebuah bar lesbian. Namanya Emma. Sejak ketemu Emma itulah Adele sadar bahwa dia lebih suka sama Emma ketimbang cowok lain. Kukira memang sesimpel itu, tapi kemudian, setelah lama pacaran dengan Emma, ada saat dimana Adele tergoda juga sama rekan kerjanya yang seorang cowok. Pokoknya membingungkan deh. Karena hal itu, aku jadi berasumsi bahwa jangan-jangan si Adele ini biseksual, bukannya lesbian.

Alur ceritanya sebenarnya nggak yang ‘wow’ gitu sih. Durasi dan alurnya yang lambat seakan mengajak penonton untuk memahami struggle-nya si Adele itu. Dan dengan nggak adanya narasi juga menandakan bahwa si Adele bener-bener nggak paham sama dirinya sendiri, in which she’s struggling. Satu lagi, di adegan akhir kan Adele pulang dari pameran lukisannya si Emma, dan si Samir, temennya Emma yang diam-diam suka sama Adele ngejar dia tapi ketinggalan dan akhirnya salah arah. Ini menurutku semacam simbol kalau Adele akan stuck suka sama Emma meskipun Samir ngejar-ngejar dia dan Emma udah sama cewek lain. Mengenai korelasi antara judul dan ceritanya, menurutku biru itu simbol Emma bagi Adele dan Emma itu kayak rumah yang menawarkan kehangatan bagi Adele sehingga sampai akhir pun dia tetap stuck di Emma, like she’s the apple of her eyes.

Yang aku suka dari film ini: Pertama, akting para aktor dan aktrisnya bagus. Terutama pemerannya si Emma, yaitu Lea Seydoux; Kedua, karakternya si Emma menurutku menarik banget. Seorang cewek tomboy rambutnya biru, matanya biru, kulitnya pucat, pelukis, dan suka filsafat. Menurutku, karakter dia menonjol; Ketiga, banyak obrolan-obrolan yang filosofis in which i’d love to talk about, hehe.

Dua hal yang aku sayangkan dari film ini adalah: Sutradara dan produsernya cowok, jadi mungkin film ini nggak menggambarkan secara real atas apa yang dialami sama seorang lesbian; dan di film ini nggak digambarkan kehidupan masa lalunya Adele yang bisa aja berpengaruh ke orientasi seksualnya.