Segelas Kebahagiaan

Di sepanjang jalanan Gerlong, ada sebuah kios kecil berwarna merah. Letak spesifiknya, di depan MQ Guest House. Kios itu jual minuman. Namanya lucu : Pengubah Cokelat. Mungkin karena nama aslinya berbahasa inggris, orang-orang tidak peduli lagi si cokelat itu diubah jadi apa. Yang penting rasanya enak dan menyegarkan.

Aku suka cokelat tapi tidak terlalu suka manis. Dan si Pengubah Cokelat ini benar-benar tipikal cokelat kesukaanku. Rasanya tidak manis tapi agak pahit. Sejak pertama kali beli, aku sudah sebut dia ‘Kebahagiaan’. Memang norak dan aku juga tidak tahu kenapa aku menyebutnya seperti itu. Aku hanya suka dia dan candaan itu lumayan lucu bagi teman-temanku.

Tapi, sore ini aku baru paham.

Hari ini aku pulang sore sekali. Setelah presentasi di kelas Psikologi Pendidikan dan mendengarkan ceramah dosen di Psikologi Kepribadian II, aku juga harus berdiskusi lama dengan teman sekelompokku untuk tugas mata kuliah lain. Setelah pukul lima, diskusi selesai dan aku melangkah pulang. Perutku mulai berteriak minta diisi. Hari ini aku memang tidak makan siang, malas. Lalu tiba-tiba aku ingat aku belum beli kertas kado untuk membungkus hadiah Ummi. Akhirnya kuputuskan untuk mampir dulu ke toko alat tulis. Dan kebetulan toko alat tulis itu dekat dengan si Pengubah Cokelat. Aku tersenyum simpul. Masa bodoh dengan uang, aku ingin bahagia sore ini. Aku memang selalu begini sejak pegang uang banyak sendiri. Padahal aku tidak kekurangan tapi rasanya masalah uang selalu menjadi beban pikiran semua orang. Aku benci memikirkan uang tapi pikiran itu datang sendiri. Akhirnya aku mampir ke kios merah itu dan beli kebahagiaanku. Hehehe.

Sore ini topping bubble-nya habis. Akhirnya aku pilih milk pudding. Itu juga enak kok. Setelah segelas Kebahagiaan itu sudah kugenggam, aku tersenyum semakin lebar. Akupun langsung menghampiri toko alat tulis di sebelahnya, beli kertas kado, dan segera melangkah untuk pulang ke kosan. Lalu sambil berjalan aku kepikiran. Kenapa ya aku sebut dia yang sedang kugenggam ini sebagai ‘Kebahagiaan’? Lalu tanpa menganalisis lebih jauh aku langsung temukan jawabannya.

 

Aku ingin bahagia bisa sesederhana ini.

Kalaupun suatu saat aku tidak bisa beli dia, aku ingin melihat senyummu saja aku bisa bahagia.

Hehe.

Iklan

Rebirth

Aku selembar kertas kosong, namun warnanya tidak putih.

kemarin-kemarin, seseorang menulis dengan tinta hitam.

kemarinya lagi merah,

kemarinnya lagi jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu….

 

Sekarang semuanya luntur

 

Kertasku jadi kosong, hitam warnanya.

sekarang aku ingin menulis di atasnya

kali ini dengan tanganku sendiri

Tapi, aku bingung tinta warna apa yang akan kupakai

[Drama + Webtoon Review] Cheese In The Trap : I Found Myself in a Fictional Character

cheese_in_the_trap-p2

 

Pertama, aku mau bilang kalau ini sudah sangat telat untuk review drama yang tayang satu tahun lalu :’D

Tapi, karena webtoonnya baru tamat sebulan yang lalu, jadi nggak apa lah ya. Soalnya di postingan ini aku ga cuma review dramanya doang, tapi Cheese In The Trap’s whole stories. Aku akan ngomongin cerita ini secara keseluruhan.

Dan yang terpenting adalah, aku merasa cerita Cheese In The Trap ini bagus banget dan–ekhm–related to my reality.

Lanjutkan membaca “[Drama + Webtoon Review] Cheese In The Trap : I Found Myself in a Fictional Character”

4 O’CLOCK

Line! 

Line! 

Line! 

Aku menutup mata sejenak. Ponsel yang sejak tadi kugenggam masih bergetar sambil mengelukan bunyi nyaring. Kupeluk kedua lututku, ibu jari tangan kananku menekan tombol kunci di ponsel.

I need to rest. I need to be alone. 

Setelah merasa lebih baik, kusandarkan punggungku pada dinding di sampingku. Kuluruskan kedua kakiku ke depan. Dan sekarang, yang kulihat di depan mataku adalah jendela kamarku yang tertutup tirai. Aku selalu suka posisi ini, menghadap jendela.

Jam berapa sekarang?

Tanpa menghiraukan ribuan benang kusut yang berkelebat rumit di kepala, aku menekan kembali tombol kunci di ponselku. Pukul 22.26 WIB. Ah, aku belum bersiap apapun untuk tidur. Biasanya aku bukan burung hantu yang terus terjaga hingga tengah malam. Aku butuh jam tidur yang banyak untuk bisa bangun pagi. Tapi, malam itu…aku hanya ingin tetap terdiam.

Untuk beberapa menit aku terdiam, sibuk dengan pikiranku sendiri. Dan ketika aku lelah sendiri dengan apa yang kupikirkan, kuusap layar di ponselku sehingga menampilkan timeline.

 

 

 

 

BTS Festa hari ini sudah keluar! R&V – 네시 (4 O’CLOCK)

 

Oh? BTS Festa hari ini gilirannya Taehyung? 

Aku sempat terkejut. Namun, setelah memasang headset, sejurus kemudian segera menelusuri link dari akun BTS WORLD tersebut. Link tersebut langsung membawaku ke soundcloud dan langsung menampilkan laman lagu tersebut.

어느 날 달에게 (oneu nal darege)

길고긴 편지를 썼어 (gilgogin pyeonjireul sseosseo)

Napasku tercekat. Tepat di detik pertama suara berat Taehyung berbisik di telingaku. Hawa di sekitarku tiba-tiba berubah. Aku menarik kembali kedua kakiku dan memeluknya. Tenggorokanku terasa memanas. Aku berkali-kali memaki dalam hati.

Sial. Kenapa waktunya tepat banget? Kenapa lagunya harus yang mellow begini? 

너보다 환하진 않지만 (neoboda hwanhajin anjiman)

자근 촛볼을 켰어 (jageun chotbureul kyeosseo)

Dari beberapa baris lirik yang telah kudengar, aku sama sekali tidak bisa membayangkan isi lagunya. Kata yang kuketahui artinya hanyalah 어느날 yang artinya suatu hari, 편지 yang artinya surat, 너보다 yang artinya dibandingkan denganmu, dan 자근 yang artinya kecil. Tapi, dalam kebutaanku, aku bisa merasakan mataku yang mulai menampung air.

어스름한 공원에 (oseureumhan gongwone)

노래하는 이름모를 새 (noraehaneun ireum moreul sae)

Where are you

Oh you

Air mataku tumpah. Tepat di saat where are you. Aku tidak memikirkan siapapun, namun, entah mengapa aku merasakan kesedihan yang sangat dalam dan tiba-tiba. Entah karena aku lelah, entah karena aku merindukan seseorang yang tidak tahu siapa, entah karena suara berat Taehyung dan iringan gitar yang terdengar sangat indah. Aku menangis.

Aku memandang kembali laman lagu tersebut yang menampilkan sampul albumnya. Mereka jenius. Aku terus menangis. Jendela putih dan bayangan dahan pohon serta warna biru keunguan yang menggambarkan langit malam. Rasanya sangat serasi dengan lagunya. Lagu ini benar-benar memiliki kisah di dalamnya.

왜 울고 있는지 (wae ulgo inneunji) (why are you crying?)

여긴 나와 너 뿐인데 (yeogin nawa neo ppuninde)

Me and you

Oh you

Tangisanku semakin deras ketika Taehyung bertanya mengapa aku menangis. Rasanya kali ini aku bisa meraung. Aku…tidak tahan lagi. Aku tidak mengerti mengapa bisa sesedih ini….

Setelahnya, aku benar-benar tidak bisa menahan air mataku lagi. Kubiarkan mengalir deras. Aku tidak lagi menyekanya dengan punggung tangan. Pada saat itu kuputuskan untuk segera mengunduh lagu ini. Segera kutekan kembali tombol kunci di ponselku dan mengusap layarnya. Kubuka twitter dan langsung kucari akun resmi @BTS_twt untuk mencari tweet mereka yang menghubungkan langsung ke blog mereka. Setelah kutemukan, aku langsung membuka lamannya.

Waktu lagu We Dont Talk Anymore Pt. 2 rilis beberapa minggu lalu, aku tidak berhasil mengunduh lagunya langsung dari blog resmi mereka. Namun kali ini…aku benar-benar berharap banyak. Tersedia tiga link untuk mengunduh. Aku mencoba ketiganya, namun tidak ada yang berhasil. Semuanya servernya down.

Apa yang harus kulakukan? Aku benar-benar harus memiliki lagu ini di ponselku….

Aku menggigit bibir. Menahan tangis namun gagal. Tangisanku semakin deras. Tangan kananku tak henti-hentinya membanting ponsel di atas kasur. Kutatap langit-langit, dan bulir air mataku tumpah ke kedua sisi wajah.

Bahkan ketika Namjoon memulai bagian rapnya, vibe dari lagu ini tidak berubah sama sekali. Rasanya tetap terdengar sangat sedih dan mendalam.

Lagu itu terus terputar berulang-ulang. Air mataku mulai mengering. Kini aku berbaring menyamping di kasurku, menatap dinding yang sepi. Dan dalam alunan yang menyayat hati itu, kedua mataku, tanpa kusadari, perlahan terpejam.

Aku terbangun oleh nyanyian Namjoon di telingaku.

Awalnya, aku sempat merasa asing dengan lagu itu. Namun akhirnya aku mengenal kembali nada yang membuatku memilu semalaman. Kamarku gelap. Tirai jendela tentunya belum kubuka.

Jam berapa sekarang? 

Ibu jari tangan kananku menekan tombol kunci. Ah, pukul 3.47 WIB. Ternyata masih sangat pagi.

Pagi itu…aku tidak mengantuk. Aku bangkit dan duduk menyandar menghadap jendela. Kudengarkan kembali lagu itu hingga pukul empat.

Tadinya, aku ingin pergi ke lantai atas dan melihat fajar dari sana. Namun, aku terlanjur sadar kalau fajar tidak bisa terlihat dari atas sana karena tertutup bangunan lain.

Pagi yang sepi. Orang-orang yang masih terlelap. Suara kicauan burung. Kamarku yang gelap. Selimutku yang hangat. Aku yang terduduk menghadap jendela. Irama gitar yang merdu. Suara Taehyung yang berbisik. Nyanyian Namjoon yang menenangkan. Perasaan sedih itu. Kehampaan itu.

Aku memang tidak menangis lagi ketika mendengarkan lagu itu. Namun sampai sekarang pun, ketika mendengarkan lagu itu, meskipun tidak menangis, aku masih bisa merasakan kesedihan yang mendalam itu. Entah karena aku lelah, entah karena aku merindukan seseorang yang tidak tahu siapa, entah karena suara berat Taehyung dan iringan gitar yang terdengar sangat indah.

.

.

It is both a blessing

And a curse

To feel everything

So very deeply


d.j


on being your own self

Sejak dulu, motto “be yourself” kayaknya udah jadi andalan bagi banyak orang. Dan yang kupercaya, pada akhirnya semua orang pun akan kembali pada diri mereka sendiri. I mean, tasting loneliness. Oh, ini mungkin agak kejauhan ya 😂

Akhir-akhir ini aku banyak kepikiran tentang masalah ini sih, on being my own self. Apalagi setelah belajar matkul Filsafat Manusia, Psikologi Kepribadian, dan terlebih setelah baca novel Demian karya Herman Hesse.

Aku ulang sekali lagi ya, kayaknya motto “be yourself” emang udah jadi andalan hampir semua orang. Dulu, aku selalu berpikir kalo diriku sendiri berbeda dari kebanyakan orang. I considered myself as an exclussive one. Tapi, sekarang, setelah kupikir ulang dan kuamati orang lain, ternyata memang setiap orang menganggap diri mereka berbeda dari yang lainnya. Nggak salah, sih. This is the truth. Setiap manusia memang unik (gils udh psikologi bgt ya 😂).

Biasanya kecenderungan untuk berpikir demikian itu muncul di usia remaja. Mereka mungkin akan menganggap diri mereka as a weird one, as an ‘alien’, or something exclussive, dan mereka bangga akan hal itu. Kenapa? Karena secara tidak sadar hal itu akan memberi mereka identitas. Seperti yang banyak orang-orang ketahui, usia remaja memang masa pencarian jati diri. Mereka akan melakukan apa yg mereka sukai sesuka mereka. Dan biasanya hal ini berujung ke self-labelling. Misalnya, aku suka banget baca buku dan akhirnya temen-temenku pun menganggapku kutu buku.

Nah, masalahnya, self-labelling itu dihayati oleh mereka sebagai identitas mereka dan mereka secara tidak langsung lupa bahwa mereka manusia (bukan robot atau mesin yang diprogram) dan bahwa manusia selalu berubah.

Jadi, dulu aku sempet jadi ‘robot’. Sejak kecil aku suka warna pink dan semua temenku tau hal itu, sampai-sampai aku tetap menganggap diriku suka warna pink padahal aku udah gak ada rasa (?) sama warna pink 😂. Sampai di satu titik aku sadar akan hal itu dan aku ngaku sama diri sendiri kalau warna kesukaanku udah berubah, haha.

Meskipun aku tadi bilang bahwa manusia itu selalu berubah, bukan berarti semua hal dalam diri kalian bakal berubah. Kalian yang akan tahu dan sadar hal mana yang berubah dan hal mana yang tetap. Abaikan orang lain, you own yourself so you know yourself better than anyone else. 

Balik lagi ke some exclussive, weirdos and alien thingy yang tadi. Ini juga jadi salah satu poin penting. Just because you are yourself, it doesn’t mean that you are always different from other people. Dalam menjadi diri kalian sendiri, bukan berarti kalian selalu beda dari orang lain. Karena orang-orang suka musik pop, kalian bilang kalo kalian sukanya musik jazz soalnya musik pop itu pasaran dan mainstream, padahal dalam lubuk hati yang terdalam kalian juga merasa musik pop itu bagus 😂. Karena orang-orang banyak yang baca novel romance, kalian bilang kalo kalian sukanya novel sci-fi soalnya novel romance itu menye-menye (?) dan selera kalian itu beda dari selera kebanyakan orang, padahal kalian merasa novel romance itu enjoyable 😂. Karena kebanyakan orang nge-stan BTS kalian bilang kalo kalian sukanya Davichi soalnya BTS itu buat anak-anak newbie yang alay dan kalian itu senior, padahal diem-diem kalian juga suka lagu-lagunya BTS yang dalem maknanya 😂.

Oke, yang terakhir emang kasusku sih, haha. Aku termasuk senior dalam dunia per-kpop-an (gaya bgt ya 😂). Aku masuk perangkap kpop (?) sejak tahun 2010-an dan nggak bisa keluar sampai sekarang 😂. Dan akhir-akhir ini aku suka BTS salah satunya dan yang jadi alasan utamanya adalah karena lagu-lagu mereka yang penuh makna. Dan tiba-tiba seseorang bilang begitu 😂. Aku sih nggak masalah dibilang alay atau apa soalnya aku tahu sendiri alasanku suka mereka, haha.

See? Jadi menjadi diri sendiri itu bukan berarti menjadi berbeda dari orang lain. Sifat kalian pun nggak sepenuhnya berbeda dengan orang lain. Kalau dalam Psikologi, sifat seorang manusia itu meliputi tiga hal. Yang pertama sifat umum, yaitu sifat yang dimiliki semua manusia. Yang kedua sifat kelompok, yaitu sifat yang dimiliki kelompok tertentu, biasanya disangkutpautkan dengan budaya di mana orang tersebut tinggal. Dan yang ketiga barulah sifat khusus, yaitu sifat yang murni milik orang tersebut yang membedakannya dari yang lain. Tapi bukan berarti sifat khusus seeksklusif itu sih, misalnya ada seseorang yang sifat khususnya periang. Dan kita tahu kan kalau orang yang periang itu pastinya bukan hanya dia aja di seluruh dunia ini. 

Menurutku, hakikat menjadi diri sendiri yaitu mengenal diri kalian sendiri. Kalian tahu mana yang kalian suka dan mana yang nggak kalian suka, mana yang works buat kalian dan mana yang nggak works sama sekali buat kalian, dan sebagainya. As many people said, just listen to the little voice inside you. 

Jadi, udah sejauh mana kalian menjadi diri kalian sendiri? 😉

.

.
P.s. Ini hanya pendapatku, pemikiranku, dan apa yang kurasakan. Kalian nggak harus setuju sepenuhnya, dan jangan telen bulet-bulet 😂. Sejauh ini, inilah yg works buatku dan yang menurutku benar. Di kalian bisa saja berbeda. You know, kebenaran kan memang relatif 😉 Dan dengan sharing tentang hal ini bukan berarti aku udah sukses jadi diriku sendiri, nggak semudah itu guys :’) the struggle is real. 

aku ingin hidup

Sering kutemukan diriku lupa caranya hidup

kabur dalam detik-detik tak pasti

tenggelam dalam rawa-rawa sejarah

 

masa kini hanya angan kosong

tak bisa kutatap

tak bisa kukenang

 

kau tahu kenapa mata diciptakan?

itu untuk menatap ke depan

Dan kau tahu kenapa kau punya otak?

itu untuk menyimpan memorimu

 

kau punya hati namun busuk

maka sesulit itulah kau bisa

hidup.

 

 

p.s : people keep saying that you have to live your life, and i found it as hard as to create life itself.

Dari Fisika ke Psikologi, dari Korea ke Jerman.

Time made me into an adult, but i don’t think it made me strong.

Time made me into an adult, but it made me that much more of a fool.

—Nell – 청춘연가 (Green Nocturne).

Sebelum aku cerita, aku mau ngasih tahu dulu kalau di postinganku sebelumnya aku pernah bilang bahwa aku suka pakai baju warna merah, bahwa aku suka makan cheesecake, bahwa aku gak begitu suka puisi, bahwa aku pengen banget tinggal di Bandung, bahwa nomor satu di bucket list-ku yaitu lolos SM-UPI 2016. Dan sekarang aku sudah jadi mahasiswa Psikologi UPI, tentunya aku tinggal di Bandung, aku kecanduan baca puisi, aku lebih suka makan eskrim (atau patbingsoo) ketimbang cheesecake, dan aku lebih suka pakai baju warna netral ketimbang warna cerah yang mencolok.

Intinya, aku sudah berubah banyak.

Judul tulisan ini sebenarnya udah lama banget nangkring di draft. Tapi aku sadari ternyata aku berubah bukan hanya dalam periode-periode waktu yang cukup panjang. Aku berubah setiap harinya, dan mungkin begitu pula manusia lainnya. Jadi, kupikir kalau aku secepat itu menulis tentang topik ini, rasanya kurang valid aja. Nah, karena beberapa hari yang lalu aku bertambah tua setahun, kupikir ini momen yang pas untuk nulis postingan ini.

Several days ago, i turned 19. And the first thing i realized was…i changed a lot.

Several days ago, i became an adult. And now i know for sure, this world is just big and i’m obviously a tiny seed in a gigantic garden. 

People may say about it a lot, but at that time, i eventually can feel it….

Aku anak pertama dari dua bersaudara, aku juga cucu pertama nenekku di keluarga besarku. Sejak kecil orang-orang sudah memandangku sebagai sosok andalan. I used to be a smart-obedient-neat puppy in my early life. I also considered myself as a powerful-lucky girl at that time. People should respect me, i thought. I thought, i owned all that perfect predicate. Sejak kecil, jarang sekali ada orang yang mencelaku (terutama teman-teman di sekolahku). Setiap ada yang mencela, aku pasti mengelak (walaupun apa yang dicela orang itu benar adanya). Thinking about it now, lol, i was too sentimental. 
Dan suatu waktu, tiba-tiba aku bertemu seseorang yang bener-bener mencelaku. I don’t know for sure, but i thought this was my internal problem (hell yeah i know i’m a more-introverted person 😂). One thing that i know : since that day, my life feels like getting worser time to time. 

Dulu, aku suka banget Fisika! It’s like, hey it’s the most fun and challenging subject. Bahkan waktu SMA aku sempat gabung ke klub fisika yang eksklusif (uhuk). Setiap liburan tiba, aku bahkan dengan setulus hati les fisika privat di rumah 😂.

(Sejak) dulu, aku juga suka dengan segala hal yang berbau Korea. No comment deh tentang apa yang aku sukai dari hal-hal yang berbau Korea itu (terutama Kpop). Sampai-sampai aku kepikiran untuk kuliah atau tinggal di Korea hanya karena suka aja 😂. Waktu pertama kali aku suka, it’s just going on like that. No specific reason, i think. 

Dan sekarang, like what i’ve said, i’ve changed a lot. It’s literally ‘a lot’.

Sekarang, kalau ada orang yang mencela, aku benar-benar bisa tertawa dengan hal itu. Aku mulai bisa menerima ketidaksempurnaan. I don’t consider myself as a perfect one again. Everything that’s going on in my life, i’m able to accept it. I hardly let it flow. 

Dan tentang Fisika, mimpi masa kecilku :’) aku sudah buang jauh-jauh, hehe. Entah kenapa waktu milih jurusan kuliah satu-satunya yang bener-bener pengen kujalani cuma Psikologi 😂. Aku bahkan rela ujian tahun depannya lagi seandainya gak dapet tahun itu (tapi alhamdulillah dapet, hehe).

Kalau masalah suka-sukaan sama Korean thingy sih masih sampai sekarang :p. Tapi, kali ini lebih beralasan. Mungkin suatu saat aku bakal jelasin di postingan lain hehe.

Dibandingkan Korea, sekarang, kalau suatu saat ada kesempatan kuliah di luar negeri, aku lebih tertarik ke Jerman. Kenapa? Karena banyak ilmuwan-ilmuwan psikologi yang berasal dari Jerman. Jerman dan USA itu ibaratnya tempat lahir dan berkembangnya Psikologi. Jadi, kupikir kalau mau mendalami ilmu tertentu yang terbaik belajar di tempat asalnya, kan?

Oh ya, akhir-akhir ini aku juga baru sadar kalau kesukaanku sama warna pink sudah berkurang banyak 😂. Sekarang aku merasa bahwa aku suka warna lilac (ungu permen karet (?)) dan kuning. Sebenernya aku suka sejak lama, tapi baru kuakui sekarang 😂.

Jadi ngomongin yang nggak penting, haha.

Intinya, don’t live too hard. If you’re going to try hard on something, just try hard to accept everything happen in your life. Ok? 😉


Oh, one more thing. Now i’m an ARMY, guys! ;)))

How it feels being a politician’s daughter

This is for you yang orangtuanya tiba-tiba memutuskan untuk menyelami lautan politik (atau nggak tiba-tiba juga kali ya), yang orangtuanya juga ‘orang politik’ dan barangkali di tulisan ini kalian akan banyak menemukan ‘i know how it feels’ moment, atau kalian yang cuma kepo aja gimana sih rasanya jadi anak seorang politikus.

Sebenarnya udah lama banget aku mau nulis tentang hal ini, but i don’t know why, it feels like come and go, jadi idenya ga menetap dan aku terlanjur lupa, hehe. Tapi, kemarin (22/01) ada kejadian yang mendorongku untuk segera merealisasikan keinginanku untuk menulis tentang topik ini.

Jadi kejadiannya begini, kemarin, setelah sekian lama akhirnya aku dan keluargaku bisa jalan-jalan lagi. We used to do it like once a month, tapi sejak aku kuliah di luar kota tentunya nggak bisa semudah itu lagi jalan-jalan bareng keluarga (i dunno, sejak kuliah aku ngerasa keluarga itu berharga banget, jadi setiap bisa kumpul atau doing something together, it feels like golden times). Dan kemarin setelah selesai jalan-jalannya, sebelum aku, ibu dan ayahku pulang ke rumah, of course kita nganterin adikku ke asramanya dulu. Sepanjang perjalanan ke asramanya, air wajah adikku itu udah nggak enak aja. Seems like he’s annoyed of something. Dan setelah sampai di asramanya, sebelum keluar mobil dia bilang, “Idad mah nanti kalau kerja nggak mau di politik ah, kasian keluarganya. Pokoknya kerjanya apa aja yang penting anaknya seneng.”

Bam!

Aku, ibuku dan ayahku pun langsung freeze.

Aku cuma bisa ngomong dalam hati, “Damn, nggak usah disuarain juga kali, dek. Pikirin gimana perasaan Ummi sama Abi denger itu.”

Memang sebelumnya acara ‘jalan-jalan’ kita terasa diburu-buru sih, soalnya setelahnya ayahku bilang ada acara yang harus dihadiri. Sebenarnya hal semacam ini sering terjadi sih, tapi nggak ngerti kenapa hari itu adikku kelihatannya kesel banget.

Tapi, seperti biasa ibuku selalu mencairkan suasana dan nggak ada satupun yang bahas apa yang adikku bilang tadi 😂

Setelah adikku masuk ke asramanya, kami pun pergi. Sepanjang perjalanan ke rumah ayah dan ibuku ngobrol (sepertinya sih ngobrolin apa yang adikku bilang tadi), dan seperti biasa, kalau di mobil i can do nothing but listening to music sambil liatin jalan.

Kupikir apa yang adikku bilang tadi bukan masalah besar, soalnya waktu ayah dan ibuku ngobrol di mobil itu kayak sambil bercanda gitu, tapi kemudian sesampainya di rumah, sebelum pergi lagi ayahku bilang, “Teh, kalau dalam Psikologi apa yang Dede bilang tadi itu ungkapan emosional doang, kan, bukan dari kesadaran?” (Ayahku memang tahu Psikologi sih walaupun bukan bidang utamanya)

Aku kaget sejenak sih, tapi kemudian mulai mikir. Bukan mikir tentang jawabannya, jawabannya sih aku udah dapet langsung setelah ayahku nanya, tapi aku mikir jawabanku bakal bikin ayahku ‘freeze‘ kayak tadi nggak ya, soalnya…

“Kalau kata Sigmund Freud sih…”

“Apa? Id, ego, superego?” ayahku nyeletuk duluan 😂

“Bukan itu. Eh, maksudnya iya itu juga teorinya Sigmund Freud tapi maksud teteh bukan itu, Bi. Kan begini, manusia itu punya dua dimensi, overt sama covert alias alam kesadaran sama alam bawah sadar. Nah, tapi yang paling mendominasi sebenernya tuh alam bawah sadar, berapa ya persenannya teteh lupa, hehe. Kalau nggak salah 70 persen, deh.”

Dan ayahku pun cuma manggut-manggut terus pamit untuk pergi lagi. Padahal sebenarnya penjelasanku belum selesai sih, tapi syukurlah soalnya kalau kujelasin lebih lanjut takutnya ayahku ‘freeze‘ 😂 Kenapa? Soalnya gini penjelasanku selanjutnya : Analisisku sih, apa yang tadi adikku bilang itu sebenarnya hasil luapan alam bawah sadarnya yang udah numpuuuk banget dan akhirnya meledak sebagai emosi.

Dari pertanyaan ayahku itu, aku tahu ayahku khawatir kalo apa yang adikku bilang tadi memang benar apa yang dia pikirkan secara sadar, bukan hanya ungkapan emosional doang. Dan aku terus terang beranggapan bahwa itu memang benar apa yang adikku pikirkan (soalnya w juga ngerasain hehe) dan kemudian muncul sebagai ledakan emosinya, dan bukan sebaliknya.

Kok jadi berat ya bahasannya? 😂

Jadi intinya aku khawatir sih sama orangtuaku, tapi di sisi lain aku juga senang akhirnya mereka tahu apa yang selama ini aku dan adikku pikirkan dan rasakan.

Itu poin pertama tentang gimana rasanya jadi anak seorang politikus. Kalian akan merasakan saat-saat kalian ‘dinomorduakan’.

To be honest, ayah dan ibuku sudah aktif di perpolitikan dari aku masih kecil sih. Bahkan, sewaktu aku bayi pun katanya aku malah lebih sering diurus oleh uwakku sampai-sampai aku dikira anaknya, bukan anak ibuku :’) So sad but true. 

Ketika anak-anak lain pada umumnya banyak diasuh oleh ibunya di rumah, aku sewaktu usia tiga sampai empat tahun lebih sering diasuh nenekku sampai-sampai kamar nenekku penuh poster huruf alfabet, angka-angka, nama-nama hewan, dll 😂 Dan parahnya, katanya waktu itu aku jarang tidur di rumah karena nggak mau, maunya tidur di rumah nenek 😂

Barulah umur lima tahun sampai usia SD, aku mulai betah di rumah (sampai sekarang jadi anak rumahan) dan mulai sering menghabiskan waktu dengan orangtuaku plus adikku yang sudah lahir. Tapi sesering-seringnya, mulai usia sembilan tahun, aku dan adikku yang usianya lima tahun sering juga ditinggal berdua di rumah 😂

Sampai pernah waktu itu, aku dan adikku ditinggal berdua doang di rumah, lalu ada sepupu kami datang. Adikku dan sepupu kami itu sedang main kejar-kejaran di dalam rumah, dan kemudian pelipis adikkupun berdarah dan sobek karena terbentur ujung pintu. Aku yang berusia sembilan tahun tentunya kaget bukan main. Tidak ada siapapun di rumah, apa yang bisa dilakukan anak sembilan tahun -.-

Akhirnya akupun memapah adikku yang terus menangis untuk keluar rumah dan menemui orangtuaku. Untungnya waktu itu orangtuaku sedang rapat di tempat yang tidak begitu jauh dari rumah, jadi aku bisa mengantarkan adikku hanya dengan berjalan kaki.

Kalau diingat-ingat, itu menyedihkan sih :’)

Memang pada umumnya orang politik sesibuk itu, sih. Dan sebagai anaknya, aku memang terbiasa ditinggal sendirian di rumah. Teman-temanku juga sempat heran karena kata mereka aku sering banget sendirian di rumah, apa nggak kesepian? Setiap mereka nanya kayak gitu aku selalu jawab, “udah biasa.” Pokoknya rumah sepi itu sudah biasa wkwk.

Dan yang perlu diketahui, sebenarnya politikus itu bukan pekerjaan. Artinya, ayah ibuku berpolitik itu nggak menghasilkan uang. Ayahku punya pekerjaan lain, begitu juga ibuku.

Lalu yang kedua, kalian akan merasakan di manapun, kalau orang lain tahu orangtua kalian itu siapa, setiap apa yang kalian lakukan pasti nggak akan lepas dari image orangtua kalian itu.

Sewaktu kelas 5 SD aku pernah ditunjuk untuk jadi calon Pratama Puteri di Pramuka cuma gara-gara pembina Pramukaku yang menunjuk aku itu kenal ayahku dan dia bilang kalau aku pasti bisa karena aku anaknya ayahku. What the… 😂

Dan yang paling menyebalkannya, i can’t do something like shit just because my father is well-known as a good politician. Memang bukan hal yang buruk, but you know, aku HARUS bersikap baik di manapun hanya karena image baik yang dimiliki ayahku. Feels like everybody always see me as my father’s daughter, not my own self. Bagiku, ini terasa seperti penghinaan kepribadian (?) sih. Bukan hanya karena aku nggak bisa bersikap buruk, tapi, bersikap baik pun pasti disangkut-pautkannya dengan orangtua.

Intinya, apapun dalam diri kalian pasti akan disangkut-pautkan dengan orangtua kalian itu. For me, this is the worst. 

Selain pengalaman yang kurang mengenakkan seperti tadi, ada sih pengalaman yang lucu. Kalau orangtua kalian politikus, suatu saat ada kemungkinan foto dan nama orangtua kalian dipajang di sepanjang jalan atau di manapun karena dicalonkan atau mencalonkan diri untuk jadi anggota legislatif atau walikota atau apapun deh. Lucunya, ayahku memang sering dicalonkan seperti itu, dan setiap aku lagi bareng teman-temanku dan menemukan di jalanan atau di angkutan umum ada ‘wajah’ ayahku terpampang, mereka pasti bilang (sambil bercanda), “Ca, kok si bapak itu mirip kamu ya.” atau “Ca, itu kenal nggak bapak itu siapa?” atau yang lebih to the point kayak “Ca, Abi kamu tuh!”

Aku nggak malu sih, cuma… Yes, i know itu ayahku, terus kenapa gitu loh 😂😂😂

Dan ada satu lagi hal yang nggak mengenakkan yang baru-baru ini kupikirin sih. Sekarang aku mahasiswa, dan entah kenapa aku merasa ‘politik’ itu kayak zona yang banyak dipandang buruk sama masyarakat. Aku perhatiin, kalau udah dengar kata ‘politik’, orang-orang biasanya pesimis. Bahkan, ketika aku mencari gambar untuk postingan ini pun, banyak hal-hal buruk yang muncul ketika aku mengetik keyword politicians‘di Pinterest. Kebanyakan semacam meme gitu sih. Just prove it. 

Di beberapa titik, aku merasa sedih sih. Bayangkan aja, orangtua kalian memiliki profesi yang banyak ‘dibenci’ orang. Bahkan terkadang aku ‘mengiyakan’ argumentasi orang-orang yang nggak suka politik itu. I’ll be like “yang mereka omongin itu terasa benar sih, tapi kalo w setuju kok rasanya kayak berkhianat ya 😂🔫 ”

Tapi sekarang sih, kalau dipikir lebih lanjut, seburuk-buruknya politikus di mata orang, politikus itulah yang selama ini membesarkan aku. Lagipula menurutku politik itu nggak bisa dipukul rata. Mereka memiliki tujuan yang berbeda-beda dalam menjalankan perpolitikannya (?). I mean, kalau seorang politikus itu buruk bukan berarti politikus lainnya juga buruk, kan? Masih banyak orang-orang baik di dunia ini, guys. Just be positive 🙂

Dan yang terpenting, jangan ‘tong kosong nyaring bunyinya’ aja sih. Seburuk-buruknya politikus di mata orang, setidaknya dia berpartisipasi aktif dalam bernegara. Itu juga yang pada akhirnya membuatku bangga dengan ayahku dan ibuku, terutama ayahku. Untuk saat ini, ‘profesi politik’ ayahku memang menghasilkan uang, tidak seperti dulu. To be honest, pekerjaan utama ayahku saat ini adalah anggota legislatif. Dan aku tahu sesibuk apa ayahku saat ini. Sebagai anggota legislatif, sibuknya ayahku bukan hanya karena banyak rapat dan sidang yang harus dihadiri di kantor, tapi juga untuk bertemu dengan masyarakat. Sering sekali ayahku pulang tengah malam hanya karena bertemu dengan masyarakat di berbagai daerah dalam rangka menerima masukan dari masyarakat. You know lah memang tugasnya anggota legislatif itu menerima aspirasi dari masyarakat, kan?

Dan lagi, yang perlu diketahui, uang hasil pekerjaan ayahku itu tidak sepenuhnya milik ayahku. Sebagian milik partai, sebagian untuk masyarakat, barulah sisanya untuk ayahku pribadi.

Aku bangga, ayahku bekerja bukan hanya untuk uang, tapi juga untuk menjalankan sikap sebagai warga negara yang baik dan untuk mengabdi pada masyarakat 🙂

Ini kisahku sebagai anak seorang politikus, bagaimana kisah kalian? 🙂

 

Cintaku Yang Platonis

Luapan itu telah tercecer di ruang lampau ketika kau baru saja mengundangnya detik ini.

Cintaku, Aku hancur. Namun ada yang hidup kemudian.

Dan setelah Kau matipun, tetap ada yang hidup.

( Malam yang selalu dingin, Desember 2016)