How it feels being a politician’s daughter

This is for you yang orangtuanya tiba-tiba memutuskan untuk menyelami lautan politik (atau nggak tiba-tiba juga kali ya), yang orangtuanya juga ‘orang politik’ dan barangkali di tulisan ini kalian akan banyak menemukan ‘i know how it feels’ moment, atau kalian yang cuma kepo aja gimana sih rasanya jadi anak seorang politikus.

Sebenarnya udah lama banget aku mau nulis tentang hal ini, but i don’t know why, it feels like come and go, jadi idenya ga menetap dan aku terlanjur lupa, hehe. Tapi, kemarin (22/01) ada kejadian yang mendorongku untuk segera merealisasikan keinginanku untuk menulis tentang topik ini.

Jadi kejadiannya begini, kemarin, setelah sekian lama akhirnya aku dan keluargaku bisa jalan-jalan lagi. We used to do it like once a month, tapi sejak aku kuliah di luar kota tentunya nggak bisa semudah itu lagi jalan-jalan bareng keluarga (i dunno, sejak kuliah aku ngerasa keluarga itu berharga banget, jadi setiap bisa kumpul atau doing something together, it feels like golden times). Dan kemarin setelah selesai jalan-jalannya, sebelum aku, ibu dan ayahku pulang ke rumah, of course kita nganterin adikku ke asramanya dulu. Sepanjang perjalanan ke asramanya, air wajah adikku itu udah nggak enak aja. Seems like he’s annoyed of something. Dan setelah sampai di asramanya, sebelum keluar mobil dia bilang, “Idad mah nanti kalau kerja nggak mau di politik ah, kasian keluarganya. Pokoknya kerjanya apa aja yang penting anaknya seneng.”

Bam!

Aku, ibuku dan ayahku pun langsung freeze.

Aku cuma bisa ngomong dalam hati, “Damn, nggak usah disuarain juga kali, dek. Pikirin gimana perasaan Ummi sama Abi denger itu.”

Memang sebelumnya acara ‘jalan-jalan’ kita terasa diburu-buru sih, soalnya setelahnya ayahku bilang ada acara yang harus dihadiri. Sebenarnya hal semacam ini sering terjadi sih, tapi nggak ngerti kenapa hari itu adikku kelihatannya kesel banget.

Tapi, seperti biasa ibuku selalu mencairkan suasana dan nggak ada satupun yang bahas apa yang adikku bilang tadi 😂

Setelah adikku masuk ke asramanya, kami pun pergi. Sepanjang perjalanan ke rumah ayah dan ibuku ngobrol (sepertinya sih ngobrolin apa yang adikku bilang tadi), dan seperti biasa, kalau di mobil i can do nothing but listening to music sambil liatin jalan.

Kupikir apa yang adikku bilang tadi bukan masalah besar, soalnya waktu ayah dan ibuku ngobrol di mobil itu kayak sambil bercanda gitu, tapi kemudian sesampainya di rumah, sebelum pergi lagi ayahku bilang, “Teh, kalau dalam Psikologi apa yang Dede bilang tadi itu ungkapan emosional doang, kan, bukan dari kesadaran?” (Ayahku memang tahu Psikologi sih walaupun bukan bidang utamanya)

Aku kaget sejenak sih, tapi kemudian mulai mikir. Bukan mikir tentang jawabannya, jawabannya sih aku udah dapet langsung setelah ayahku nanya, tapi aku mikir jawabanku bakal bikin ayahku ‘freeze‘ kayak tadi nggak ya, soalnya…

“Kalau kata Sigmund Freud sih…”

“Apa? Id, ego, superego?” ayahku nyeletuk duluan 😂

“Bukan itu. Eh, maksudnya iya itu juga teorinya Sigmund Freud tapi maksud teteh bukan itu, Bi. Kan begini, manusia itu punya dua dimensi, overt sama covert alias alam kesadaran sama alam bawah sadar. Nah, tapi yang paling mendominasi sebenernya tuh alam bawah sadar, berapa ya persenannya teteh lupa, hehe. Kalau nggak salah 70 persen, deh.”

Dan ayahku pun cuma manggut-manggut terus pamit untuk pergi lagi. Padahal sebenarnya penjelasanku belum selesai sih, tapi syukurlah soalnya kalau kujelasin lebih lanjut takutnya ayahku ‘freeze‘ 😂 Kenapa? Soalnya gini penjelasanku selanjutnya : Analisisku sih, apa yang tadi adikku bilang itu sebenarnya hasil luapan alam bawah sadarnya yang udah numpuuuk banget dan akhirnya meledak sebagai emosi.

Dari pertanyaan ayahku itu, aku tahu ayahku khawatir kalo apa yang adikku bilang tadi memang benar apa yang dia pikirkan secara sadar, bukan hanya ungkapan emosional doang. Dan aku terus terang beranggapan bahwa itu memang benar apa yang adikku pikirkan (soalnya w juga ngerasain hehe) dan kemudian muncul sebagai ledakan emosinya, dan bukan sebaliknya.

Kok jadi berat ya bahasannya? 😂

Jadi intinya aku khawatir sih sama orangtuaku, tapi di sisi lain aku juga senang akhirnya mereka tahu apa yang selama ini aku dan adikku pikirkan dan rasakan.

Itu poin pertama tentang gimana rasanya jadi anak seorang politikus. Kalian akan merasakan saat-saat kalian ‘dinomorduakan’.

To be honest, ayah dan ibuku sudah aktif di perpolitikan dari aku masih kecil sih. Bahkan, sewaktu aku bayi pun katanya aku malah lebih sering diurus oleh uwakku sampai-sampai aku dikira anaknya, bukan anak ibuku :’) So sad but true. 

Ketika anak-anak lain pada umumnya banyak diasuh oleh ibunya di rumah, aku sewaktu usia tiga sampai empat tahun lebih sering diasuh nenekku sampai-sampai kamar nenekku penuh poster huruf alfabet, angka-angka, nama-nama hewan, dll 😂 Dan parahnya, katanya waktu itu aku jarang tidur di rumah karena nggak mau, maunya tidur di rumah nenek 😂

Barulah umur lima tahun sampai usia SD, aku mulai betah di rumah (sampai sekarang jadi anak rumahan) dan mulai sering menghabiskan waktu dengan orangtuaku plus adikku yang sudah lahir. Tapi sesering-seringnya, mulai usia sembilan tahun, aku dan adikku yang usianya lima tahun sering juga ditinggal berdua di rumah 😂

Sampai pernah waktu itu, aku dan adikku ditinggal berdua doang di rumah, lalu ada sepupu kami datang. Adikku dan sepupu kami itu sedang main kejar-kejaran di dalam rumah, dan kemudian pelipis adikkupun berdarah dan sobek karena terbentur ujung pintu. Aku yang berusia sembilan tahun tentunya kaget bukan main. Tidak ada siapapun di rumah, apa yang bisa dilakukan anak sembilan tahun -.-

Akhirnya akupun memapah adikku yang terus menangis untuk keluar rumah dan menemui orangtuaku. Untungnya waktu itu orangtuaku sedang rapat di tempat yang tidak begitu jauh dari rumah, jadi aku bisa mengantarkan adikku hanya dengan berjalan kaki.

Kalau diingat-ingat, itu menyedihkan sih :’)

Memang pada umumnya orang politik sesibuk itu, sih. Dan sebagai anaknya, aku memang terbiasa ditinggal sendirian di rumah. Teman-temanku juga sempat heran karena kata mereka aku sering banget sendirian di rumah, apa nggak kesepian? Setiap mereka nanya kayak gitu aku selalu jawab, “udah biasa.” Pokoknya rumah sepi itu sudah biasa wkwk.

Dan yang perlu diketahui, sebenarnya politikus itu bukan pekerjaan. Artinya, ayah ibuku berpolitik itu nggak menghasilkan uang. Ayahku punya pekerjaan lain, begitu juga ibuku.

Lalu yang kedua, kalian akan merasakan di manapun, kalau orang lain tahu orangtua kalian itu siapa, setiap apa yang kalian lakukan pasti nggak akan lepas dari image orangtua kalian itu.

Sewaktu kelas 5 SD aku pernah ditunjuk untuk jadi calon Pratama Puteri di Pramuka cuma gara-gara pembina Pramukaku yang menunjuk aku itu kenal ayahku dan dia bilang kalau aku pasti bisa karena aku anaknya ayahku. What the… 😂

Dan yang paling menyebalkannya, i can’t do something like shit just because my father is well-known as a good politician. Memang bukan hal yang buruk, but you know, aku HARUS bersikap baik di manapun hanya karena image baik yang dimiliki ayahku. Feels like everybody always see me as my father’s daughter, not my own self. Bagiku, ini terasa seperti penghinaan kepribadian (?) sih. Bukan hanya karena aku nggak bisa bersikap buruk, tapi, bersikap baik pun pasti disangkut-pautkannya dengan orangtua.

Intinya, apapun dalam diri kalian pasti akan disangkut-pautkan dengan orangtua kalian itu. For me, this is the worst. 

Selain pengalaman yang kurang mengenakkan seperti tadi, ada sih pengalaman yang lucu. Kalau orangtua kalian politikus, suatu saat ada kemungkinan foto dan nama orangtua kalian dipajang di sepanjang jalan atau di manapun karena dicalonkan atau mencalonkan diri untuk jadi anggota legislatif atau walikota atau apapun deh. Lucunya, ayahku memang sering dicalonkan seperti itu, dan setiap aku lagi bareng teman-temanku dan menemukan di jalanan atau di angkutan umum ada ‘wajah’ ayahku terpampang, mereka pasti bilang (sambil bercanda), “Ca, kok si bapak itu mirip kamu ya.” atau “Ca, itu kenal nggak bapak itu siapa?” atau yang lebih to the point kayak “Ca, Abi kamu tuh!”

Aku nggak malu sih, cuma… Yes, i know itu ayahku, terus kenapa gitu loh 😂😂😂

Dan ada satu lagi hal yang nggak mengenakkan yang baru-baru ini kupikirin sih. Sekarang aku mahasiswa, dan entah kenapa aku merasa ‘politik’ itu kayak zona yang banyak dipandang buruk sama masyarakat. Aku perhatiin, kalau udah dengar kata ‘politik’, orang-orang biasanya pesimis. Bahkan, ketika aku mencari gambar untuk postingan ini pun, banyak hal-hal buruk yang muncul ketika aku mengetik keyword politicians‘di Pinterest. Kebanyakan semacam meme gitu sih. Just prove it. 

Di beberapa titik, aku merasa sedih sih. Bayangkan aja, orangtua kalian memiliki profesi yang banyak ‘dibenci’ orang. Bahkan terkadang aku ‘mengiyakan’ argumentasi orang-orang yang nggak suka politik itu. I’ll be like “yang mereka omongin itu terasa benar sih, tapi kalo w setuju kok rasanya kayak berkhianat ya 😂🔫 ”

Tapi sekarang sih, kalau dipikir lebih lanjut, seburuk-buruknya politikus di mata orang, politikus itulah yang selama ini membesarkan aku. Lagipula menurutku politik itu nggak bisa dipukul rata. Mereka memiliki tujuan yang berbeda-beda dalam menjalankan perpolitikannya (?). I mean, kalau seorang politikus itu buruk bukan berarti politikus lainnya juga buruk, kan? Masih banyak orang-orang baik di dunia ini, guys. Just be positive 🙂

Dan yang terpenting, jangan ‘tong kosong nyaring bunyinya’ aja sih. Seburuk-buruknya politikus di mata orang, setidaknya dia berpartisipasi aktif dalam bernegara. Itu juga yang pada akhirnya membuatku bangga dengan ayahku dan ibuku, terutama ayahku. Untuk saat ini, ‘profesi politik’ ayahku memang menghasilkan uang, tidak seperti dulu. To be honest, pekerjaan utama ayahku saat ini adalah anggota legislatif. Dan aku tahu sesibuk apa ayahku saat ini. Sebagai anggota legislatif, sibuknya ayahku bukan hanya karena banyak rapat dan sidang yang harus dihadiri di kantor, tapi juga untuk bertemu dengan masyarakat. Sering sekali ayahku pulang tengah malam hanya karena bertemu dengan masyarakat di berbagai daerah dalam rangka menerima masukan dari masyarakat. You know lah memang tugasnya anggota legislatif itu menerima aspirasi dari masyarakat, kan?

Dan lagi, yang perlu diketahui, uang hasil pekerjaan ayahku itu tidak sepenuhnya milik ayahku. Sebagian milik partai, sebagian untuk masyarakat, barulah sisanya untuk ayahku pribadi.

Aku bangga, ayahku bekerja bukan hanya untuk uang, tapi juga untuk menjalankan sikap sebagai warga negara yang baik dan untuk mengabdi pada masyarakat 🙂

Ini kisahku sebagai anak seorang politikus, bagaimana kisah kalian? 🙂

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s