Dari Fisika ke Psikologi, dari Korea ke Jerman.

Time made me into an adult, but i don’t think it made me strong.

Time made me into an adult, but it made me that much more of a fool.

—Nell – 청춘연가 (Green Nocturne).

Sebelum aku cerita, aku mau ngasih tahu dulu kalau di postinganku sebelumnya aku pernah bilang bahwa aku suka pakai baju warna merah, bahwa aku suka makan cheesecake, bahwa aku gak begitu suka puisi, bahwa aku pengen banget tinggal di Bandung, bahwa nomor satu di bucket list-ku yaitu lolos SM-UPI 2016. Dan sekarang aku sudah jadi mahasiswa Psikologi UPI, tentunya aku tinggal di Bandung, aku kecanduan baca puisi, aku lebih suka makan eskrim (atau patbingsoo) ketimbang cheesecake, dan aku lebih suka pakai baju warna netral ketimbang warna cerah yang mencolok.

Intinya, aku sudah berubah banyak.

Judul tulisan ini sebenarnya udah lama banget nangkring di draft. Tapi aku sadari ternyata aku berubah bukan hanya dalam periode-periode waktu yang cukup panjang. Aku berubah setiap harinya, dan mungkin begitu pula manusia lainnya. Jadi, kupikir kalau aku secepat itu menulis tentang topik ini, rasanya kurang valid aja. Nah, karena beberapa hari yang lalu aku bertambah tua setahun, kupikir ini momen yang pas untuk nulis postingan ini.

Several days ago, i turned 19. And the first thing i realized was…i changed a lot.

Several days ago, i became an adult. And now i know for sure, this world is just big and i’m obviously a tiny seed in a gigantic garden. 

People may say about it a lot, but at that time, i eventually can feel it….

Aku anak pertama dari dua bersaudara, aku juga cucu pertama nenekku di keluarga besarku. Sejak kecil orang-orang sudah memandangku sebagai sosok andalan. I used to be a smart-obedient-neat puppy in my early life. I also considered myself as a powerful-lucky girl at that time. People should respect me, i thought. I thought, i owned all that perfect predicate. Sejak kecil, jarang sekali ada orang yang mencelaku (terutama teman-teman di sekolahku). Setiap ada yang mencela, aku pasti mengelak (walaupun apa yang dicela orang itu benar adanya). Thinking about it now, lol, i was too sentimental. 
Dan suatu waktu, tiba-tiba aku bertemu seseorang yang bener-bener mencelaku. I don’t know for sure, but i thought this was my internal problem (hell yeah i know i’m a more-introverted person 😂). One thing that i know : since that day, my life feels like getting worser time to time. 

Dulu, aku suka banget Fisika! It’s like, hey it’s the most fun and challenging subject. Bahkan waktu SMA aku sempat gabung ke klub fisika yang eksklusif (uhuk). Setiap liburan tiba, aku bahkan dengan setulus hati les fisika privat di rumah 😂.

(Sejak) dulu, aku juga suka dengan segala hal yang berbau Korea. No comment deh tentang apa yang aku sukai dari hal-hal yang berbau Korea itu (terutama Kpop). Sampai-sampai aku kepikiran untuk kuliah atau tinggal di Korea hanya karena suka aja 😂. Waktu pertama kali aku suka, it’s just going on like that. No specific reason, i think. 

Dan sekarang, like what i’ve said, i’ve changed a lot. It’s literally ‘a lot’.

Sekarang, kalau ada orang yang mencela, aku benar-benar bisa tertawa dengan hal itu. Aku mulai bisa menerima ketidaksempurnaan. I don’t consider myself as a perfect one again. Everything that’s going on in my life, i’m able to accept it. I hardly let it flow. 

Dan tentang Fisika, mimpi masa kecilku :’) aku sudah buang jauh-jauh, hehe. Entah kenapa waktu milih jurusan kuliah satu-satunya yang bener-bener pengen kujalani cuma Psikologi 😂. Aku bahkan rela ujian tahun depannya lagi seandainya gak dapet tahun itu (tapi alhamdulillah dapet, hehe).

Kalau masalah suka-sukaan sama Korean thingy sih masih sampai sekarang :p. Tapi, kali ini lebih beralasan. Mungkin suatu saat aku bakal jelasin di postingan lain hehe.

Dibandingkan Korea, sekarang, kalau suatu saat ada kesempatan kuliah di luar negeri, aku lebih tertarik ke Jerman. Kenapa? Karena banyak ilmuwan-ilmuwan psikologi yang berasal dari Jerman. Jerman dan USA itu ibaratnya tempat lahir dan berkembangnya Psikologi. Jadi, kupikir kalau mau mendalami ilmu tertentu yang terbaik belajar di tempat asalnya, kan?

Oh ya, akhir-akhir ini aku juga baru sadar kalau kesukaanku sama warna pink sudah berkurang banyak 😂. Sekarang aku merasa bahwa aku suka warna lilac (ungu permen karet (?)) dan kuning. Sebenernya aku suka sejak lama, tapi baru kuakui sekarang 😂.

Jadi ngomongin yang nggak penting, haha.

Intinya, don’t live too hard. If you’re going to try hard on something, just try hard to accept everything happen in your life. Ok? 😉


Oh, one more thing. Now i’m an ARMY, guys! ;)))

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s