on being your own self

Sejak dulu, motto “be yourself” kayaknya udah jadi andalan bagi banyak orang. Dan yang kupercaya, pada akhirnya semua orang pun akan kembali pada diri mereka sendiri. I mean, tasting loneliness. Oh, ini mungkin agak kejauhan ya πŸ˜‚

Akhir-akhir ini aku banyak kepikiran tentang masalah ini sih, on being my own self. Apalagi setelah belajar matkul Filsafat Manusia, Psikologi Kepribadian, dan terlebih setelah baca novel Demian karya Herman Hesse.

Aku ulang sekali lagi ya, kayaknya motto “be yourself” emang udah jadi andalan hampir semua orang. Dulu, aku selalu berpikir kalo diriku sendiri berbeda dari kebanyakan orang. I considered myself as an exclussive one. Tapi, sekarang, setelah kupikir ulang dan kuamati orang lain, ternyata memang setiap orang menganggap diri mereka berbeda dari yang lainnya. Nggak salah, sih. This is the truth. Setiap manusia memang unik (gils udh psikologi bgt ya πŸ˜‚).

Biasanya kecenderungan untuk berpikir demikian itu muncul di usia remaja. Mereka mungkin akan menganggap diri mereka as a weird one, as an ‘alien’, or something exclussive, dan mereka bangga akan hal itu. Kenapa? Karena secara tidak sadar hal itu akan memberi mereka identitas. Seperti yang banyak orang-orang ketahui, usia remaja memang masa pencarian jati diri. Mereka akan melakukan apa yg mereka sukai sesuka mereka. Dan biasanya hal ini berujung ke self-labelling. Misalnya, aku suka banget baca buku dan akhirnya temen-temenku pun menganggapku kutu buku.

Nah, masalahnya, self-labelling itu dihayati oleh mereka sebagai identitas mereka dan mereka secara tidak langsung lupa bahwa mereka manusia (bukan robot atau mesin yang diprogram) dan bahwa manusia selalu berubah.

Jadi, dulu aku sempet jadi ‘robot’. Sejak kecil aku suka warna pink dan semua temenku tau hal itu, sampai-sampai aku tetap menganggap diriku suka warna pink padahal aku udah gak ada rasa (?) sama warna pink πŸ˜‚. Sampai di satu titik aku sadar akan hal itu dan aku ngaku sama diri sendiri kalau warna kesukaanku udah berubah, haha.

Meskipun aku tadi bilang bahwa manusia itu selalu berubah, bukan berarti semua hal dalam diri kalian bakal berubah. Kalian yang akan tahu dan sadar hal mana yang berubah dan hal mana yang tetap. Abaikan orang lain, you own yourself so you know yourself better than anyone else. 

Balik lagi ke some exclussive, weirdos and alien thingy yang tadi. Ini juga jadi salah satu poin penting. Just because you are yourself, it doesn’t mean that you are always different from other people. Dalam menjadi diri kalian sendiri, bukan berarti kalian selalu beda dari orang lain. Karena orang-orang suka musik pop, kalian bilang kalo kalian sukanya musik jazz soalnya musik pop itu pasaran dan mainstream, padahal dalam lubuk hati yang terdalam kalian juga merasa musik pop itu bagus πŸ˜‚. Karena orang-orang banyak yang baca novel romance, kalian bilang kalo kalian sukanya novel sci-fi soalnya novel romance itu menye-menye (?) dan selera kalian itu beda dari selera kebanyakan orang, padahal kalian merasa novel romance itu enjoyable πŸ˜‚. Karena kebanyakan orang nge-stan BTS kalian bilang kalo kalian sukanya Davichi soalnya BTS itu buat anak-anak newbie yang alay dan kalian itu senior, padahal diem-diem kalian juga suka lagu-lagunya BTS yang dalem maknanya πŸ˜‚.

Oke, yang terakhir emang kasusku sih, haha. Aku termasuk senior dalam dunia per-kpop-an (gaya bgt ya πŸ˜‚). Aku masuk perangkap kpop (?) sejak tahun 2010-an dan nggak bisa keluar sampai sekarang πŸ˜‚. Dan akhir-akhir ini aku suka BTS salah satunya dan yang jadi alasan utamanya adalah karena lagu-lagu mereka yang penuh makna. Dan tiba-tiba seseorang bilang begitu πŸ˜‚. Aku sih nggak masalah dibilang alay atau apa soalnya aku tahu sendiri alasanku suka mereka, haha.

See? Jadi menjadi diri sendiri itu bukan berarti menjadi berbeda dari orang lain. Sifat kalian pun nggak sepenuhnya berbeda dengan orang lain. Kalau dalam Psikologi, sifat seorang manusia itu meliputi tiga hal. Yang pertama sifat umum, yaitu sifat yang dimiliki semua manusia. Yang kedua sifat kelompok, yaitu sifat yang dimiliki kelompok tertentu, biasanya disangkutpautkan dengan budaya di mana orang tersebut tinggal. Dan yang ketiga barulah sifat khusus, yaitu sifat yang murni milik orang tersebut yang membedakannya dari yang lain. Tapi bukan berarti sifat khusus seeksklusif itu sih, misalnya ada seseorang yang sifat khususnya periang. Dan kita tahu kan kalau orang yang periang itu pastinya bukan hanya dia aja di seluruh dunia ini. 

Menurutku, hakikat menjadi diri sendiri yaitu mengenal diri kalian sendiri. Kalian tahu mana yang kalian suka dan mana yang nggak kalian suka, mana yang works buat kalian dan mana yang nggak works sama sekali buat kalian, dan sebagainya. As many people said, just listen to the little voice inside you. 

Jadi, udah sejauh mana kalian menjadi diri kalian sendiri? πŸ˜‰

.

.
P.s. Ini hanya pendapatku, pemikiranku, dan apa yang kurasakan. Kalian nggak harus setuju sepenuhnya, dan jangan telen bulet-bulet πŸ˜‚. Sejauh ini, inilah yg works buatku dan yang menurutku benar. Di kalian bisa saja berbeda. You know, kebenaran kan memang relatif πŸ˜‰ Dan dengan sharing tentang hal ini bukan berarti aku udah sukses jadi diriku sendiri, nggak semudah itu guys :’) the struggle is real. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s